KETIKA JANJI LEBIH BESAR DARI REALITAS
RHEMA HARI INI
2 Korintus 4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
Dalam hidup, sering kali kita diperhadapkan pada kenyataan yang terasa begitu kuat: kondisi keuangan yang menurun, hasil diagnosis medis yang buruk, atau persoalan hidup yang seakan tak ada ujungnya. Semua itu terlihat nyata dan menekan hati. Namun, firman Tuhan menunjukkan bahwa ada realitas lain yang lebih besar dari apa yang terlihat. Kisah Elisa di Dotan menggambarkan hal ini dengan jelas (2 Raj. 6:8-18). Ketika pasukan Aram mengepung kota itu, bujang Elisa hanya melihat ancaman yang mengelilingi mereka. Namun, Elisa berkata, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita.” Ketika ia berdoa, Tuhan membuka mata bujangnya, sehingga ia melihat gunung penuh dengan tentara sorgawi. Bahkan Tuhan membutakan mata musuh, menunjukkan bahwa kuasa-Nya melampaui segala yang terlihat.
Sering kali kita pun terlalu fokus pada apa yang tampak di depan mata. Kita melihat angka, keadaan, dan fakta yang membuat kita gentar. Kita menilai masa depan dari apa yang terlihat hari ini. Padahal, janji Tuhan tidak dibatasi kondisi, tidak berubah oleh waktu, dan tidak bisa diukur dengan logika manusia. Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:18 mengingatkan bahwa hidup orang percaya tidak ditentukan oleh apa yang terlihat, karena semuanya itu sementara. Sebaliknya, iman mengarahkan kita untuk berpegang pada yang tidak terlihat, yaitu janji Tuhan yang kekal dan tidak tergoncangkan.
Ya, kita tidak dipanggil untuk menyangkal realitas, tetapi untuk tidak dikuasai olehnya. Saat kita mengalihkan pandangan dari keadaan kepada janji Tuhan, cara kita melihat hidup akan berubah. Iman membuka mata rohani kita untuk melihat bahwa Tuhan selalu bekerja, bahkan ketika kita tidak menyadarinya. Janji Tuhan menjadi dasar yang kokoh, yang menolong kita tetap berdiri di tengah tekanan. Oleh sebab itu, ketika kita memutuskan untuk memiliki iman yang baru, kita sedang terhubung dengan realitas sorgawi yang lebih besar dari segala keadaan dunia. (BS)
RENUNGAN
Kita TIDAK HIDUP berdasarkan STATISTIK, tetapi berdasarkan JANJI TUHAN.
APLIKASI
1. Fakta apa yang saat ini lebih menguasai hati Anda daripada iman kepada Tuhan?
2. Mengapa Anda perlu mulai mempercayai janji Tuhan, bukan keadaan?
3. Bagaimana Anda bisa memegang janji Tuhan atas hidup Anda, meskipun Anda belum melihat penggenapannya?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, terima kasih untuk firman-Mu hari ini. Kami rindu hidup dalam janji-Mu, bukan pada apa yang kami lihat dan rasakan. Biarlah Roh-Mu membarui hati dan pikiran kami, sehingga kami bisa hidup dikuasai oleh firman-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Yesaya 1-2; Galatia 5
MUSUH TERBESAR IMAN
RHEMA HARI INI
Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Pada tahun 2001, Gracia Burnham, seorang misionaris asal Amerika Serikat, disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di hutan Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Selama lebih dari setahun, ia hidup dalam tekanan, ketakutan, dan ketidakpastian. Dalam sebuah operasi penyelamatan, suaminya tewas tertembak. Luka yang ia alami bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Pengalaman kelam itu bisa saja membuat Gracia memendam kepahitan, tetapi Gracia mengambil keputusan yang berbeda. Ia memilih untuk mengampuni. Ia menyadari bahwa jika ia memelihara kepahitan, maka ia akan tetap menjadi “tawanan”, bahkan setelah ia dibebaskan. Pengampunanlah yang benar-benar memerdekakannya.
Firman Tuhan dalam Ibrani 12:15 mengingatkan kita tentang bahaya “akar pahit” yang bisa tumbuh diam-diam di dalam hati. Kepahitan tidak selalu muncul dalam bentuk yang besar dan terlihat, tetapi sering kali berawal dari luka kecil yang tidak dibereskan. Mungkin itu kekecewaan, amarah, iri hati, rasa tidak dihargai, atau sakit hati yang dipendam. Seiring waktu, hal-hal kecil ini dapat berakar dan berkembang menjadi racun yang mencemari hati, mempengaruhi pikiran, bahkan merusak hubungan kita dengan orang lain.
Seperti yang dialami Gracia Burnham, penderitaan tidak selalu menghancurkan iman, tetapi kepahitan yang dipelihara dapat menjauhkan kita dari kasih karunia Tuhan. Hari ini, mungkin kita tidak menghadapi penderitaan sebesar itu, tetapi kita semua memiliki potensi menyimpan “racun kecil” di dalam hati. Karena itu, mari belajar melepaskan setiap luka dan memilih mengampuni. Miliki hati yang baru untuk Tuhan dengan mengganti setiap beban hati dengan kasih dan iman yang baru kepada-Nya. Jangan biarkan kepahitan mengikat kita. Sebab saat kita melepaskan pengampunan, di situlah kita benar-benar mengalami kemerdekaan dan pemulihan dari Tuhan. (AO)
RENUNGAN
MUSUH TERBESAR IMAN bukan gunung permasalahan di luar diri kita, tetapi RACUN KECIL di dalam HATI KITA.
APLIKASI
1. Apakah beban atau sakit hati yang masih Anda simpan sampai saat ini?
2. Mengapa Anda perlu membereskan racun kecil dalam hati Anda?
3. Bagaimana Anda bisa mengenali racun kecil di hati Anda dan apa langkah yang bisa Anda ambil untuk mengatasinya?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, tolong kami untuk membersihkan hati kami dari setiap kepahitan dan luka yang tersembunyi. Kami tidak ingin membiarkan racun kecil merusak iman kami. Penuhi kami dengan kasih dan damai sejahtera-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Kidung agung 6-8; Galatia 4
IMAN YANG MELAMPAUI BATASAN
RHEMA HARI INI
Efesus 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
Tidak semua orang dipanggil Tuhan dari keadaan yang ideal. Banyak yang justru dipanggil dari tempat yang penuh keterbatasan. Salah satunya adalah Smith Wigglesworth, penginjil asal Inggris yang dikenal sebagai Rasul Iman. Ia lahir dalam keluarga sangat sederhana di Yorkshire. Sejak kecil ia sudah harus bekerja membantu ayahnya di ladang. Saat beranjak dewasa, ia menjadi tukang ledeng di Liverpool. Selain itu, ia juga memiliki keterbatasan dalam membaca dan kurang percaya diri untuk berbicara di depan umum. Setelah ia menikah dan melayani bersama istrinya, Mary Featherstone, istrinya itulah yang lebih sering berkhotbah. Namun, Tuhan tidak melihat keterbatasan itu sebagai akhir dari cerita. Ketika Smith mengalami baptisan Roh Kudus, hidupnya berubah. Ia dipakai Tuhan secara luar biasa. Banyak orang mengalami kesembuhan, pemulihan, dan jamahan Tuhan melalui pelayanannya. Bahkan ada kesaksian orang yang dibangkitkan dari kematian.
Dalam surat kepada Jemaat Efesus, Rasul Paulus mengingatkan bahwa Tuhan sanggup melakukan jauh lebih besar dari apa yang kita doakan atau pikirkan. Kisah Smith menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi Tuhan. Apa yang tampak mustahil secara logika, menjadi mungkin ketika Tuhan bekerja. Kuasa-Nya tidak bergantung pada kemampuan kita, tetapi pada apa yang sanggup Dia kerjakan di dalam dan melalui kita.
Karena itu, jangan biarkan keadaan atau keterbatasan membuat kita ragu. Tuhan tidak mencari yang sempurna, tetapi kesediaan kita untuk percaya dan taat. Jangan lagi batasi iman kita dengan pikiran manusia, tapi miliki iman yang baru. Iman tanpa batas yang teguh dalam Tuhan. Saat kita berani melangkah dan bersandar pada-Nya, Dia akan bekerja melampaui segala keterbatasan kita. Di situlah new wonders dinyatakan—bukan karena siapa kita, tetapi karena siapa Tuhan dalam hidup kita. (OSA)
RENUNGAN
Iman yang menghasilkan new wonders TIDAK DIBATASI oleh KEADAAN, tetapi oleh FIRMAN yang kita PERCAYAI.
APLIKASI
1. Dalam aspek apa Anda ingin mengalami keajaiban baru?
2. Keadaan apa yang membatasi Anda untuk mengalami new wonders?
3. Apa yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi batasan-batasan yang ada?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, ampuni kami yang sering kali membatasi kuasa-Mu dalam hidup kami. Ajar kami untuk berani memiliki iman yang melampaui keadaan. Kami percaya, tahun ini, kami mengalami new wonders melampaui batasan-batasan dalam hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Kidung agung 4-5; Galatia 3
IMAN SEJATI YANG MEMINDAHKAN GUNUNG
RHEMA HARI INI
Ibrani 11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
Melakukan sesuatu tanpa mengetahui dengan pasti apa yang akan dicapai sering dianggap tidak masuk akal, bahkan terlihat konyol. Tanpa disadari, cara berpikir seperti ini terbentuk dari sistem pendidikan yang kita jalani sejak dini. Kita dibiasakan menilai segala sesuatu berdasarkan logika: apa yang masuk akal dianggap benar, sementara yang tidak sesuai nalar sering dianggap keliru. Akibatnya, kita menjadi sangat bergantung pada kepastian, perhitungan, dan kontrol. Kita merasa aman ketika semuanya jelas, tetapi menjadi ragu saat harus melangkah dalam ketidakpastian. Padahal, dalam perjalanan iman, tidak semua hal dapat dijelaskan oleh logika manusia.
Kisah Abraham—yang awalnya bernama Abram—menunjukkan jalan yang berbeda dari logika pada umumnya. Ia dipanggil Tuhan untuk meninggalkan zona nyamannya, keluar dari tanah kelahirannya, dan berjalan menuju tempat yang belum ia ketahui. Secara manusiawi, keputusan ini tampak tidak bijaksana. Ur Kasdim adalah tempat yang strategis dan menjanjikan kehidupan yang stabil. Namun Abram memilih taat. Ia meninggalkan keluarganya, hartanya, dan masa depan yang tampak pasti, hanya berpegang pada janji Tuhan. Dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik dengan Lot, keponakannya. Meski demikian, Tuhan tetap menuntunnya langkah demi langkah, membawanya kepada rencana yang lebih besar daripada yang bisa ia pahami.
Hari ini, mungkin kita juga sedang merasakan dorongan Tuhan yang belum sepenuhnya jelas. Ada panggilan, ada arah, tetapi belum ada kepastian. Di titik inilah iman bekerja. Tuhan tidak selalu memberikan gambaran lengkap di awal, tetapi Dia meminta iman yang melampaui segala akal untuk melangkah. Jangan menunggu semuanya menjadi jelas baru percaya. Ketika Tuhan sudah berbicara, respons yang tepat adalah taat. Saat kita berani melangkah dalam iman yang baru, di situlah penyertaan Tuhan dinyatakan. Percayalah, Dia tidak hanya memanggil, tetapi juga menuntun, memelihara, dan menggenapi setiap rencana-Nya dalam hidup kita. (AM)
RENUNGAN
IMAN SEJATI yang memindahkan gunung TIDAK DIAM di tempat, tetapi SELALU MELANGKAH dengan penuh percaya kepada Tuhan.
APLIKASI
1. Bagian hidup apa yang Tuhan sedang minta Anda melangkah, tetapi Anda masih ragu karena belum jelas?
2. Dalam mengambil keputusan, apakah Anda lebih mengandalkan logika atau iman kepada Tuhan?
3. Langkah iman apa yang bisa Anda ambil hari ini sebagai bentuk ketaatan?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan yang setia, ajari kami untuk peka mendengar suara-Mu dan berani melangkah, sekalipun kami belum melihat dengan jelas arah yang akan kami tuju. Kuatkan hati kami untuk taat seperti Abraham, dan percaya bahwa Engkau akan selalu menyertai setiap langkah kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Kidung Agung 1-3; Galatia 2
HAL YANG MEMICU NEW WONDERS
RHEMA HARI INI
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Monica dari Hippo adalah seorang ibu Kristen yang saleh dan hidup di Afrika Utara pada abad ke-5. Ia memiliki seorang anak lelaki bernama Augustine, yang sangat cerdas, tetapi hidupnya jauh dari Tuhan. Anak itu menganut gaya hidup bebas, suka mengejar kesenangan dunia, dan terpengaruh ajaran sesat, Manikheisme. Meski demikian, Monica tidak pernah berhenti berdoa untuk anaknya. Ia menangis di hadapan Tuhan. Bahkan terus meminta para pemimpin rohani untuk mendoakan anaknya. Sampai ada satu kalimat terkenal dari seorang uskup: “Tidak mungkin anak dari air mata seperti itu akan binasa.” Perkataan itu menguatkan Monica untuk tetap percaya, sekalipun ia belum melihat perubahan. Pada waktunya, doanya dijawab. Augustine bertobat, dibaptis, dan kemudian dicatat sebagai salah satu teolog terbesar dalam sejarah gereja. Ia dikenal sebagai Santo Augustine, penulis karya besar seperti Confessions, dan City of God. Dalam tulisannya, Augustine mengakui bahwa doa dan air mata ibunya adalah bagian penting dari keselamatannya.
Sering kali, kita ingin melihat bukti terlebih dahulu, baru percaya. Namun iman bekerja sebaliknya. Percaya dulu, baru melihat hasilnya. Seperti Abraham yang melangkah tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Atau Nuh yang membangun bahtera sebelum hujan turun. Mereka percaya kepada firman Tuhan, meskipun belum melihat kenyataannya. Itulah iman: berpegang pada apa yang Tuhan katakan, bukan pada apa yang terlihat.
Hari ini, mungkin kita sedang berada dalam situasi yang belum berubah. Saat Tuhan berkata “Aku menyembuhkan,” mungkin tubuh masih terasa sakit. Ketika Tuhan berkata “Aku membuka jalan,” mungkin yang kita lihat masih jalan buntu. Namun di situlah iman bekerja—memilih percaya bahwa firman Tuhan lebih nyata daripada apa yang kita lihat. Karena itu, tetaplah percaya, berharap, dan taat, sekalipun hasil belum terlihat. Sebab new wonders tidak dimulai saat keadaan berubah, tetapi saat kita memilih untuk memiliki iman yang baru di tengah ketidakpastian. (KK)
RENUNGAN
New wonders dimulai saat kita PERCAYA MESKI BELUM MELIHAT.
APLIKASI
1. Dalam bagian apa dari hidup Anda, baik itu keluarga, kesehatan, atau pekerjaan, Anda mulai kehilangan iman karena belum melihat jawaban doa?
2. Mengapa penting bagi Anda untuk lebih dipengaruhi dengan apa yang Tuhan firmankan daripada apa yang Anda lihat?
3. Apa langkah iman yang bisa Anda ambil mulai hari ini untuk percaya meski belum melihat?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, ajari kami belajar bahwa iman bukan tentang apa yang kami lihat, tetapi tentang percaya kepada-Mu. Ajar kami untuk tidak menyerah, meskipun kami belum melihat perubahan. Tuhan, kuatkan iman kami untuk tetap percaya saat doa belum dijawab dan tetap taat saat hasil belum terlihat. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Pengkhotbah 10-12; Galatia 1
CARA HIDUP YANG MELAHIRKAN IMAN
RHEMA HARI INI
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Iman tidak muncul begitu saja, tetapi lahir dari kesediaan untuk mendengar dan merespons suara Tuhan. Amy Carmichael, seorang misionaris asal Irlandia, mengalami hal ini secara nyata. Awalnya ia ingin hidup seperti wanita pada umumnya. Namun suatu hari, ia merasakan panggilan Tuhan untuk pergi melayani ke India. Hal itu tidaklah mudah, mengingat perbedaan budaya, iklim, dan risiko yang besar. Namun Amy menuruti suara Tuhan. Saat di India, ia menemukan praktik devadasi, penjualan anak-anak perempuan ke kuil dan mereka sering kali mengalami eksploitasi di sana. Tergerak oleh kasih Tuhan, ia mulai menyelamatkan anak-anak tersebut satu per satu. Ia pun mendirikan tempat perlindungan, yang kemudian dikenal sebagai Dohnavur Fellowship. Hidup Amy menjadi bukti bahwa ketika seseorang mendengar dan mentaati suara Tuhan, iman akan bertumbuh dan menghasilkan dampak yang besar.
Hal yang sama kita lihat dalam kehidupan Abraham. Ketika Tuhan memanggilnya untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke tempat yang belum ia ketahui, Abraham memilih untuk percaya dan taat. Secara logika, langkah itu penuh ketidakpastian. Namun justru dari ketaatan itulah iman Abraham bertumbuh. Ia belajar berjalan bukan berdasarkan apa yang dilihat, tetapi berdasarkan apa yang ia dengar dari Tuhan. Kepercayaannya melahirkan iman yang menghasilkan new wonders baginya, hingga ia dikenal sebagai bapa banyak bangsa.
Hari ini kita diingatkan bahwa iman tidak dimulai dari pengertian, tetapi dari pendengaran. Ketika kita membuka hati untuk mendengar, lalu mempercayai dan melangkah dalam ketaatan, iman akan bertumbuh. Memang, tidak semua tuntunan Tuhan terasa masuk akal. Namun di situlah iman bekerja. Jika kita hanya melakukan hal-hal yang masuk akal, kita mungkin hanya akan melihat hasil yang biasa. Namun ketika kita memiliki iman yang baru untuk mengikuti suara Tuhan, kita memberi ruang bagi-Nya untuk melakukan keajaiban-keajaiban baru dalam hidup kita. (CG)
RENUNGAN
Kita TIDAK DIPANGGIL untuk hidup dari LOGIKA, tetapi dari SUARA TUHAN yang MELAHIRKAN IMAN.
APLIKASI
1. Apakah Anda lebih sering mengandalkan logika sendiri atau mendengarkan suara Tuhan dalam mengambil keputusan? Mengapa demikian?
2. Mengapa Anda perlu berani taat pada suara Tuhan dibandingkan menunggu semuanya terasa pasti terlebih dahulu?
3. Langkah iman apa yang sedang Tuhan minta agar Anda lakukan, meski terasa tidak masuk akal? Bagaimana Anda bisa mentaatinya?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, ajar kami untuk peka mendengar suara-Mu dan berani melangkah dalam iman. Mampukan kami untuk taat, meski tidak selalu mengerti. Pimpin hidup kami agar berjalan sesuai kehendak-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Pengkhotbah 7-9; 2 Korintus 13
Categories
Latest Posts