KARYA TUHAN MELALUI KELUARGA KITA

02 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI 1 Korintus 1:27-28 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, Favoritisme, kecemburuan, persaingan, kebohongan, dan konflik antarsaudara. Keluarga Yusuf penuh kekacauan. Puncaknya, kakak-kakak Yusuf tega menjualnya ke Mesir karena iri hati. Sungguh keluarga yang jauh dari kata sempurna. Namun, di tengah keluarga yang penuh dengan persoalan itu, Tuhan tetap bekerja. Bertahun-tahun kemudian, ketika kelaparan melanda, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk mencari pertolongan. Tanpa mereka sadari, mereka menghadap Yusuf, saudara yang dahulu mereka sakiti. Yusuf bisa saja membalas dendam, tetapi ia memilih mengampuni. Melalui pilihan itu, Tuhan bukan hanya menyelamatkan keluarga Yusuf, tetapi satu bangsa dari kelaparan. Apa yang tampak sebagai kehancuran di mata manusia, ternyata dapat menjadi bagian dari karya besar Allah. Kisah Yusuf selaras dengan 1 Korintus 1:27-28. Dunia menilai seseorang dari latar belakang, keberhasilan, status, atau reputasinya, tetapi Allah tidak dibatasi oleh penilaian manusia. Dia sanggup bekerja melalui pribadi dan keluarga yang hancur, lemah, tampak hina, bahkan melalui keadaan yang tampaknya jauh dari ideal. Ketidaksempurnaan dan banyaknya persoalan kita bukan penghalang bagi Allah untuk memulai sesuatu yang baru. Karena itu, berhentilah membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain. Jangan pula menunggu keadaan sempurna. Mulailah dari hal-hal sederhana: belajar mengampuni, membangun komunikasi yang baik, saling mendoakan, menghormati orangtua, mengasihi pasangan, mendidik anak dalam firman Tuhan, dan menjadikan rumah sebagai tempat hadirnya kasih Kristus. Keluarga kita mungkin jauh dari sempurna, tetapi ketika kita bersedia dipakai Tuhan, keluarga kita akan menjadi Rumah Perjanjian, rumah tempat karya-Nya dimulai, sehingga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang memancarkan kemuliaan-Nya. (AM). RENUNGAN Tuhan bisa MEMULAI KARYA-NYA dan MEMAKAI keluarga yang JAUH DARI KATA SEMPURNA di mata manusia. APLIKASI 1.Bagaimanakan Anda memandang keluarga Anda selama ini? 2.Mengapa Tuhan bisa dan mau memakai keluarga Anda untuk karya-Nya? 3.Langkah nyata apa yang dapat Anda ambil agar Tuhan dapat memulai karyanya dalam keluarga Anda? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami mengakui bahwa keluarga kami tidak sempurna. Ada kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan mungkin juga luka yang belum selesai. Tapi hari ini kami menyerahkan keluarga kami ke dalam tangan-Mu. Pakailah kami. Mulailah karya-Mu dalam rumah kami. Biarlah melalui keluarga kami, banyak orang dapat melihat kasih dan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 31-33 Matius 22:1-22

Baca Artikel  

MEMBANGUN REPUTASI KELUARGA

01 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI 1 Tawarikh 26:8 Mereka sekalian adalah dari keturunan Obed-Edom, yakni mereka sendiri, anak-anak mereka dan saudara-saudara mereka, masing-masing orang yang gagah perkasa, cakap untuk pekerjaan itu, enam puluh dua orang jumlahnya dari Obed-Edom. John D. Rockefeller dikenal sebagai salah satu orang terkaya dalam sejarah. Namun, ketika membesarkan anak-anaknya, ia tidak ingin kekayaan membuat mereka kehilangan karakter. Keluarga Rockefeller pun menanamkan nilai hidup sederhana, kerja keras, tanggung jawab, penghematan, dan kepedulian kepada sesama. Anak-anak juga dibiasakan berdoa, mengenal firman Tuhan, serta belajar menggunakan uang dengan bijaksana. Nilai-nilai tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Melalui The Rockefeller Foundation, secara turun-temurun mereka mendanai pendidikan, penelitian, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan juga menyediakan lapangan pekerjaan. Yang diwariskan keluarga Rockefeller bukan hanya kekayaan, tetapi juga nilai tentang bagaimana kekayaan itu digunakan: dengan tanggung jawab, iman, dan kepedulian kepada sesama. Sebab kekayaan dapat habis, tetapi nilai hidup yang ditanamkan dalam keluarga dapat terus mempengaruhi generasi berikutnya. Prinsip serupa terlihat dalam 1 Tawarikh 26:8. Ketika mencatat keturunan Obed-Edom, Alkitab bukan menyebutkan seberapa banyak harta yang mereka miliki, tetapi kualitas mereka: “gagah perkasa dan cakap untuk pekerjaan itu.” Artinya, sesuatu dari kualitas yang dibangun dalam satu generasi dapat terlihat pada generasi berikutnya. Demikian pula keluarga kita. Kita mungkin tidak mampu membangun kekayaan besar bagi keluarga, tetapi kita dapat membangun sesuatu yang jauh lebih bernilai: iman, integritas, kasih, tanggung jawab, kerja keras, dan takut akan Tuhan. Kita tidak perlu menjadi keluarga yang sempurna, tetapi jadilah keluarga yang terus memilih hidup benar, membangun nama baik, dan mewariskan nilai-nilai yang memuliakan Tuhan. Itulah keluarga penuh kemuliaan. Keluarga yang menjadikan rumahnya Rumah Perjanjian, tempat Tuhan diutamakan dan dimuliakan. (KK) RENUNGAN REPUTASI KELUARGA bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, tetapi DIBANGUN melalui NILAI HIDUP YANG DIJALANI secara turun-temurun. APLIKASI 1.Ketika nama keluarga Anda disebut, reputasi seperti apa yang orang ingat tentang keluarga Anda? 2.Bagaimana Anda bisa menjadi teladan dan membangun nilai hidup kepada generasi berikutnya? 3.Jika suatu hari anak cucu Anda menceritakan tentang Anda, apa yang Anda ingin mereka katakan tentang iman, karakter, dan kehidupan Anda? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami rindu membangun keluarga yang bukan hanya sukses, tetapi memiliki nama baik dan hidup yang memuliakan-Mu. Tolong kami menjadi teladan dalam iman, kasih, kejujuran, dan integritas, sehingga nilai-nilai yang kami hidupi hari ini dapat menjadi warisan bagi anak cucu kami. Jadikan keluarga kami Noble Family yang menjadi berkat bagi banyak orang. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 29-30 Matius 21:23-46

Baca Artikel  

KEMULIAAN KELUARGA

31 August 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Amsal 22:1 JIKA engkau harus memilih, pilihlah nama baik daripada kekayaan yang besar; karena dikasihi dan dihormati orang lebih baik daripada perak dan emas. (FAYH) Kornelius adalah seorang perwira Romawi di Kaisarea yang dikenal sebagai orang saleh dan takut akan Tuhan (Kis. 10). Ia tekun berdoa dan suka menolong sesama. Namun, yang menarik bukan hanya kehidupan pribadinya. Ia serta seisi rumahnya dikenal takut akan Allah. Ketika seorang malaikat Tuhan memerintahkannya memanggil Petrus, Kornelius tidak menyimpan pengalaman itu untuk dirinya sendiri. Ia mengumpulkan sanak saudara dan orang-orang dekatnya untuk mendengarkan firman Tuhan. Kemudian, saat Petrus memberitakan tentang Yesus Kristus, Roh Kudus turun atas mereka yang mendengarkan. Akhirnya, Kornelius dan orang-orang yang mendengarkan Injil bersamanya dibaptis. Kehidupan Kornelius menunjukkan bahwa kemuliaan sebuah keluarga tidak hanya terlihat dari apa yang dimiliki, tetapi dari nilai yang dihidupi. Amsal 22:1 mengingatkan bahwa nama baik lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Keluarga yang terhormat bukanlah keluarga yang paling kaya atau paling ternama, melainkan keluarga yang kehidupannya membuat nama Tuhan dihormati. Kemuliaan keluarga bukan terutama tentang seberapa tinggi keluarga itu dipandang manusia, tetapi tentang seberapa jelas karakter Kristus terlihat melalui kehidupan mereka. Ya, status sosial dan harta kekayaan tidak serta-merta menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang penuh kemuliaan. Banyak keluarga kaya tetapi miskin kasih. Ada keluarga yang terkenal tetapi hidupnya tidak bisa menjadi teladan. Karena itu, bangunlah keluarga yang memiliki nilai yang layak dihormati. Ajarkan kejujuran, hidupi integritas, tunjukkan kasih, dan jadikan takut akan Tuhan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga keluarga kita bisa menjadi Rumah Perjanjian tempat hadirat-Nya dinyatakan. Bagaimanapun, yang Tuhan cari bukanlah keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang melalui kehidupannya, nama-Nya semakin dimuliakan. (CG) RENUNGAN KEMULIAAN KELUARGA ditentukan oleh SIAPA kita DI HADAPAN TUHAN dan BAGAIMANA KITA HIDUP di hadapan manusia. APLIKASI 1.Nilai apa yang sedang Anda tanamkan dalam keluarga Anda hari ini? 2.Mengapa Anda perlu menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi berikutnya? 3.Komitmen apa yang bisa Anda ambil agar keluarga Anda bisa menjadi keluarga terhormat? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, jadikan keluarga kami keluarga yang kokoh, penuh kasih, dan berkenan kepada-Mu. Biarlah kehidupan kami menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Kami percaya Engkau sedang membangun keluarga kami untuk menyatakan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 27-28 Matius 21:1-22

Baca Artikel  

RUMAH TANGGA YANG BERNILAI KEKAL

30 August 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Sepasang suami istri menerima sebidang tanah dan sudah memiliki bayangan rumah yang ingin ditinggali. Mereka pun membuat denah, memilih bahan, lalu mulai bekerja. Hari demi hari, sedikit demi sedikit, rumah itu dibangun. Ada batu yang diletakkan, dinding yang ditegakkan, bagian yang diperbaiki, bahkan kesalahan yang harus dibongkar dan dikerjakan ulang. Begitu pula dengan pernikahan. Tuhan tidak memberikan rumah tangga yang sudah jadi, tetapi mempercayakan suami dan istri untuk membangun bersama-Nya. Setiap hari, mereka meletakkan “batu” melalui keputusan-keputusan yang diambil. Setiap kata yang membangun, doa bersama, pelukan, dan kesetiaan adalah batu-batu yang disusun bersama. Ribuan keputusan kecil yang dilakukan dengan setia akhirnya membentuk rumah tangga yang mereka diami bersama. Yesus berkata bahwa orang yang bijaksana bukan hanya orang yang mendengar perkataan-Nya, tetapi juga melakukannya. Dengan demikian, menjadikan Kristus sebagai dasar rumah tangga berarti membiarkan firman-Nya menentukan bagaimana kita berbicara, mengasihi, mengambil keputusan, mengampuni, dan menghadapi perbedaan. Ya, Tuhan tidak membangun semuanya menggantikan kita. Dia memberikan arah dan menuntun kita untuk membangun bersama-Nya. Kita membangun sambil belajar, sambil memperbaiki, sambil bertumbuh. Suatu hari, kita mungkin tidak lagi mengingat setiap batu yang pernah diletakkan. Kita mungkin lupa percakapan mana yang menyelesaikan masalah, doa mana yang menguatkan, atau pengampunan mana yang menyelamatkan sebuah pertengkaran. Namun semua keputusan kecil itu telah menjadi bagian dari rumah yang kita bangun bersama. Bagaimanapun, Tuhan tidak hanya memanggil suami dan istri untuk tinggal bersama dalam sebuah rumah, tetapi untuk bersama-sama membangun keluarga yang sesuai dengan visi-Nya. Saat kita taat mengikuti arahan-Nya, Dia pun akan membawa kita masuk ke dalam Rumah Perjanjian untuk menggenapi rencana-Nya melalui keluarga kita. (MV.L) RENUNGAN Ketika kita MEMBANGUN RUMAH TANGGA BERSAMA TUHAN, maka semua yang kita bangun akan BERNILAI KEKAL. APLIKASI 1.Bagaimana cara Anda menjalani atau membangun rumah tangga Anda selama ini? 2.Mengapa rumah tangga yang kita bangun bersama Tuhan bernilai kekal? 3.Bagaimana Anda bisa mulai membangun rumah tangga Anda bersama Tuhan? DOA UNTUK HARI INI “Bapa yang baik, kami mau membangun rumah tangga kami bersama-Mu. Jadilah kepala atas kami dan tuntun setiap langkah dan keputusan kami, sehingga rumah tangga kami tidak hanya kokoh, tetapi juga menggenapi rencana besar-Mu atas kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 23-24 Matius 20:1-16

Baca Artikel  

KUNCI MEMBANGUN PERNIKAHAN YANG SEHAT

29 August 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Amsal 20:5 Isi hati orang ibarat air sumur yang dalam; tapi bisa ditimba oleh orang yang punya pengertian. (BIS) Setiap malam, setelah anak-anak tidur, sepasang suami istri duduk bersama di meja makan. Mereka membicarakan pekerjaan, tagihan, jadwal anak, dan berbagai urusan rumah tangga. Mereka hampir selalu berbicara, tetapi jarang benar-benar membicarakan isi hati. Sampai suatu malam, sang istri berkata, “Aku sebenarnya sudah beberapa minggu merasa sendirian.” Suaminya terkejut, “Tapi setiap hari kita ngobrol.” Saat itulah mereka menyadari bahwa banyak berbicara belum tentu artinya saling memahami. Di balik percakapan sehari-hari, ada hati yang menyimpan kelelahan, kekhawatiran, dan kerinduan untuk didengarkan. Amsal 20:5 berkata bahwa isi hati orang ibarat air sumur yang dalam, yang perlu ditimba terlebih dulu dengan bijak. Seperti air di dasar sumur, maksud hati seseorang tidak selalu terlihat dari apa yang diucapkannya. Kita perlu menimba lebih dalam untuk menemukannya. Demikian pula untuk mengenal hati pasangan, dibutuhkan usaha lebih untuk memberikan perhatian, kemauan untuk memahami apa yang ia rasakan, dan hikmat Tuhan untuk menjawab kebutuhan hatinya. Karena itu, belajarlah untuk mengenal hati pasangan kita. Mulailah sungguh-sungguh mendengarkan untuk memahami, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara. Bertanyalah dengan tulus, berilah ruang, dengarkan tanpa menghakimi, berusahalah memahami, lalu responi dengan kasih. Jangan sampai percakapan rutin dan keengganan menciptakan jarak, tetapi ciptakan ruang untuk saling mendengarkan setiap hari. Ketika suami dan istri sama-sama belajar memahami apa yang ada di balik kata-kata, kesalahpahaman dapat diselesaikan dan kedekatan emosional semakin bertumbuh. Saat ada dua hati yang bersedia saling mengenal, memahami, dan bertumbuh bersama dalam Tuhan, mereka bukan hanya membangun rumah tangga yang kuat, tetapi bersama-sama membangun Rumah Perjanjian yang memuliakan Tuhan. (MV.L) RENUNGAN Untuk membangun PERNIKAHAN YANG SEHAT, kita perlu belajar membangun KOMUNIKASI DARI HATI KE HATI dengan pasangan. APLIKASI 1.Bagaimanakah biasanya Anda berkomunikasi dengan pasangan? 2.Mengapa komunikasi dari hati ke hati diperlukan untuk membangun pernikahan yang sehati? 3.Bagaimana Anda bisa membangun komunikasi dari hati ke hati dengan pasangan? DOA UNTUK HARI INI “Bapa yang baik, terima kasih sudah mengingatkan kami untuk membangun komunikasi dari hati ke hati dengan pasangan. Bimbing kami dan berikan kami hikmat sehingga kami dapat membangun pernikahan yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 21-22 Matius 19

Baca Artikel  

KOMUNIKASI YANG MENJAGA KASIH TETAP HIDUP

28 August 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Sepulang kerja, seorang suami mendapati istrinya belum menyelesaikan sesuatu yang sudah mereka sepakati. Ia pun berkata spontan, “Kamu selalu begitu. Hal sederhana saja tidak bisa diandalkan.” Sang istri lelah setelah seharian mengurus rumah dan anak. Persoalan kecil itu pun berkembang menjadi pertengkaran. Beberapa waktu kemudian, mereka menyadari bahwa masalah sebenarnya bukan hanya tentang pekerjaan yang belum selesai, melainkan perkataan yang membuat keduanya merasa tidak dihargai. Seandainya sang suami berkata, “Aku kecewa karena ini belum selesai. Ada yang bisa kubantu supaya kita bisa menyelesaikannya bersama?” Kalimat itu mungkin tidak menghilangkan masalah, tetapi membuka ruang untuk mencari jalan keluar bersama tanpa saling melukai. Efesus 4:29 mengingatkan bahwa perkataan orang percaya seharusnya membangun dan memberikan kasih karunia. Dalam rumah tangga, komunikasi yang sehat bukan berarti selalu menghindari perbedaan atau mengatakan hal-hal yang menyenangkan. Ada kalanya kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan atau menegur. Namun, pastikan bahwa perkataan kita bertujuan membangun, bukan menyindir, menyalahkan, atau memenangkan pertengkaran. Sebelum berbicara, berhentilah sejenak dan tanyakan, “Apakah perkataanku akan membawa kami semakin dekat atau justru semakin jauh?” Hari ini, belajarlah mendengarkan, berbicara dengan kasih, meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Ketika suami dan istri sama-sama menjaga perkataan, masalah tidak harus menjadi tembok yang memisahkan. Sebaliknya, setiap percakapan dapat menjadi kesempatan untuk saling memahami dan membangun kembali. Penting untuk kita ingat bahwa rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah, tetapi rumah tangga yang mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan kasih. Saat kita membangun rumah tangga dengan kasih Tuhan bersama pasangan, keluarga kita pun akan menjadi Rumah Perjanjian. (AO) RENUNGAN KOMUNIKASI yang SEHAT dalam rumah tangga menjaga KASIH TETAP HIDUP. APLIKASI 1.Bagaimana biasanya Anda berbicara dengan pasangan saat dilanda emosi? 2.Mengapa kita perlu membiasakan untuk memilih kata-kata yang membangun, bukan yang melukai? 3.Bagaimana Anda bisa membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan Yesus, ajar kami menjaga perkataan dalam keluarga. Berikan kami kelembutan untuk berbicara, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan kasih untuk saling menguatkan. Biarlah komunikasi yang sehat membuat kasih-Mu terus hidup dalam rumah tangga kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 19-20 Matius 18:21-35

Baca Artikel