PELAJARAN SAAT MEMBANGUN RUMAH TANGGA
RHEMA HARI INI
Filipi 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Membangun rumah tangga dapat diibaratkan seperti menyusun puzzle. Ada begitu banyak kepingan yang harus disatukan. Masing-masing memiliki bentuk, warna, dan ukuran yang berbeda. Demikian pula suami dan istri: dua pribadi dengan latar belakang, karakter, kebiasaan, cara berpikir, serta keinginan yang tidak selalu sama dipersatukan dalam satu kehidupan. Persoalannya, kita terkadang ingin pasangan mengikuti “bentuk kepingan” kita. Kita ingin ia memahami cara berpikir, mengikuti keinginan, bahkan mengakui bahwa kitalah yang paling benar. Padahal, dalam menyusun puzzle, tidak semua kepingan langsung cocok. Pasangan harus sama-sama memikirkan dan memutar kepingan puzzle, sehingga mereka bisa melihat gambar yang berbeda, sehingga kepingan itu bisa menemukan tempatnya.
Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Ada saatnya kita perlu mengubah cara memandang, berbicara, dan memperlakukan pasangan. Filipi 2:3 mengajarkan kita untuk tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama. Kerendahan hati bukan berarti kehilangan harga diri atau selalu mengalah, tetapi bersedia membuka hati untuk mendengarkan, mengakui kesalahan, memahami pasangan, dan memilih kasih daripada keinginan untuk selalu menang. Ketika suami dan istri sama-sama bersedia melepaskan ego dan menempatkan Kristus sebagai pusat rumah tangga, kepingan-kepingan yang berbeda perlahan menemukan tempatnya. Bukan karena keduanya telah menjadi sempurna, tetapi karena anugerah Tuhan terus menyatukan dan membentuk mereka.
Karena itu, belajarlah mengalah tanpa merasa kalah, mengampuni tanpa menyimpan kepahitan, dan memahami tanpa menuntut untuk dipahami. Sebab rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh dua pribadi yang selalu sama, tetapi oleh dua hati yang sama-sama bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, suami istri bukan hanya membangun rumah tangga, tetapi Rumah Perjanjian tempat kasih Tuhan dinyatakan. (OSA)
RENUNGAN
Saat membangun rumah tangga, suami dan istri harus belajar MELEPASKAN EGO dan biarkan KASIH MEMIMPIN.
APLIKASI
1.Sudahkah Anda melepaskan ego dalam membangun kehidupan rumah tangga? Mengapa?
2.Mengapa Anda perlu melepaskan ego dalam membangun rumah tangga?
3.Apa yang Anda lakukan supaya kasih Kristus saja yang memimpin dalam rumah tangga?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, terima kasih untuk kasih setia-Mu dalam kehidupan kami. Kami mau mengutamakan Engkau dalam kehidupan rumah tangga kami. Mampukan kami untuk melepaskan ego kami masing-masing, sehingga kehidupan rumah tangga kami hanya dipimpin oleh kasih-Mu saja, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 16-18
Matius 18:1-20
YANG DIPERLUKAN DALAM MEMBANGUN KELUARGA
RHEMA HARI INI
Yosua 24:15b Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”
Ada pasangan muda yang sibuk membangun keluarga. Mereka bekerja keras, mengejar pendidikan terbaik untuk anak-anak, menabung untuk rumah, merencanakan liburan, dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi. Dari luar, keluarga itu terlihat baik-baik saja. Namun, suatu hari mereka menyadari bahwa semua yang mereka lakukan sebenarnya hanya serangkaian hal yang harus mereka jalani. Mereka belum pernah berhenti untuk bertanya, “Keluarga seperti apa yang Tuhan ingin kami bangun?” Mereka lalu menyadari bahwa keluarga tidak membutuhkan aktivitas yang lebih banyak, melainkan visi yang lebih jelas. Mereka pun mulai menentukan nilai apa yang ingin mereka tanamkan. Bagaimana mereka ingin anak-anak mengenal Tuhan, dan seperti apa kehidupan keluarga yang memuliakan-Nya? Perlahan, rutinitas sehari-hari, makan bersama, bekerja, belajar, bahkan menyelesaikan konflik mulai memiliki arah yang sama.
Yosua memberikan teladan dalam hal membangun keluarga. Ia berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Keputusan ini menunjukkan bahwa mengikut Tuhan bukan hanya visi pribadi Yosua, tetapi arah yang ia tetapkan bagi keluarganya. Demikian pula keluarga Kristen dipanggil bukan untuk sekadar tinggal bersama, bekerja, belajar, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi membangun kehidupan yang berpusat pada Tuhan. Visi itu dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana: membangun mezbah doa, menanamkan firman Tuhan, mengajarkan integritas, saling mengasihi, dan menjadi berkat bagi sesama.
Karena itu, mari berhenti sejenak dan melihat kembali keluarga kita. Apa yang sedang kita bangun bersama? Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus rutinitas hingga lupa menentukan arah. Tetapkan Tuhan sebagai pusat dan jadikan kehendak-Nya sebagai visi keluarga. Ketika visi keluarga jelas, setiap langkah sehari-hari pun memiliki tujuan, sehingga kita bisa membangun keluarga menjadi Rumah Perjanjian tempat hadirat-Nya dinyatakan. (AM)
RENUNGAN
Bangun keluarga dengan VISI yang JELAS, BUKAN hanya RUTINITAS.
APLIKASI
1.Apakah keluarga Anda saat ini sedang berjalan dalam visi Tuhan atau hanya menjalani rutinitas sehari-hari? Mengapa demikian?
2.Mengapa Anda perlu membangun keluarga dengan visi yang jelas?
3.Apa yang perlu mulai dibangun dalam keluarga Anda agar Tuhan menjadi pusat rumah tangga?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, terima kasih untuk keluarga yang Engkau percayakan kepada kami. Ajarlah kami untuk tidak hanya menjalani kehidupan keluarga sebagai rutinitas, tetapi membangunnya dengan visi yang berasal dari-Mu. Jadikan rumah kami tempat doa, tempat kasih, tempat pertumbuhan iman, dan tempat di mana nama-Mu dimuliakan. Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 14-15
Matius 17
HIDUP DAN MEMBANGUN BERSAMA
RHEMA HARI INI
1 Korintus 3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.
Saat berkeluarga, pernahkan kita merenungkan apakah selama ini kita hanya hidup bersama, atau sedang membangun bersama? Dua orang dapat tinggal di rumah yang sama, menjalani rutinitas yang sama, bahkan membesarkan anak-anak bersama, tetapi belum tentu sedang membangun kehidupan bersama. Pernikahan bukan sekadar menemukan seseorang yang kita cintai lalu menjalani hidup berdampingan. Pernikahan adalah panggilan untuk membangun sebuah rumah tangga bersama, sebuah proyek seumur hidup yang Tuhan percayakan kepada suami dan istri.
Rasul Paulus berkata, “Aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya.” Pembangunan tidak berhenti ketika dasar telah diletakkan. Demikian pula pernikahan: pemberkatan dan janji di hadapan Tuhan bukanlah akhir dari pembangunan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus membangun. Setiap hari, suami dan istri menambahkan sesuatu yang baik ke dalam rumah tangga mereka. Sebuah percakapan jujur yang membangun kepercayaan. Sebuah permintaan maaf yang memperbaiki hubungan yang retak. Sebuah keputusan mengampuni yang memulihkan kasih. Sebuah mezbah doa yang menguatkan iman. Demikianlah sebuah rumah tangga yang berkenan di mata Tuhan dibangun.
Ya, kita tidak menikah hanya supaya memiliki seseorang yang membuat kita bahagia. Tuhan mempertemukan dua insan agar membangun keluarga yang memuliakan Tuhan. Jangan menunggu sampai rumah tangga menjadi kokoh untuk mulai membangun. Mulailah hari ini, melalui hal-hal sederhana yang dilakukan dengan setia. Kelak, biarlah rumah yang kita bangun bukan hanya indah di mata manusia, tetapi kokoh menghadapi badai, hangat untuk ditinggali, dan menjadi Rumah Perjanjian tempat kasih serta hadirat Tuhan dinyatakan. (KK)
RENUNGAN
Dalam RUMAH TANGGA, suami istri DIPANGGIL bukan hanya untuk hidup bersama, tetapi juga untuk MEMBANGUN BERSAMA.
APLIKASI
1.Selama ini, apakah Anda dan pasangan hanya tinggal bersama atau membangun bersama? Mengapa demikian?
2.Apa satu hal dalam rumah tangga Anda yang Tuhan ingin Anda mulai bangun atau perbaiki?
3.Apa satu tindakan nyata yang akan Anda lakukan minggu ini untuk memperkuat bangunan rumah tangga Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, terima kasih atas keluarga yang Engkau percayakan. Ajarlah kami untuk membangun rumah tangga dalam kasih, pengampunan, kesetiaan, dan hikmat. Jadilah dasar keluarga kami, agar hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 12-13
Matius 16
YANG TERUTAMA DALAM MEMBANGUN RUMAH PERJANJIAN
RHEMA HARI INI
Mazmur 127:1 Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.
Dalam sejarah sosial dan rohani Amerika Serikat, pasangan Jonathan Edward dan Sarah Pierpont dikenal luas karena memiliki keturunan yang sangat berpengaruh di Amerika. Jonathan adalah teolog dan pengkhotbah besar dalam Kebangkitan Rohani Besar Pertama di Amerika. Dengan Sarah, mereka membangun keluarga di tengah panggilan untuk melayani Tuhan. Mereka memiliki sebelas anak dan tentu tidak dapat mengendalikan bagaimana kehidupan setiap anak mereka. Namun, ada satu hal yang dapat mereka kerjakan: membangun rumah tangga yang berpusat kepada Tuhan dan menanamkan iman melalui kehidupan sehari-hari. Mereka menyadari bahwa keluarga bukan hanya tempat untuk membesarkan anak, tetapi juga tempat untuk membangun kehidupan yang berorientasi kepada Tuhan. Hasilnya, dari keturunan mereka, terlahir ratusan tokoh yang memegang peran penting di Amerika Serikat.
Berbeda dengan rumah tinggal yang bisa dibeli dan dibangun dengan mengandalkan keuangan, rumah tangga harus diperjuangkan sepanjang waktu. Proyek seumur hidup. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Sedemikian besarnya proyek ini, manusia tidak akan pernah berhasil membangun dengan baik tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya. Berkolaborasi dengan Tuhan bukan berarti Tuhan melakukan semuanya sementara kita hanya menunggu. Kita tetap membangun, tetapi membangun bersama Sang Arsitek yang mengetahui rancangan terbaik bagi keluarga kita.
Saat kita berkolaborasi dengan Tuhan dalam membangun rumah tangga, jangan hanya berpikir, “Apa yang kita harus kerjakan?” tetapi tanyakan, “Apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui keluarga kita?” Bagaimanapun, kita bukan hanya sedang membangun sebuah keluarga; kita sedang membangun Rumah Perjanjian yang Tuhan dapat pakai untuk menyatakan kasih, kebenaran, dan rencana-Nya. (CG)
RENUNGAN
Usaha saja tidak cukup untuk membangun RUMAH TANGGA apalagi RUMAH PERJANJIAN, kita membutuhkan KOLABORASI DENGAN TUHAN.
APLIKASI
1.Dalam menghadapi masalah keluarga, apakah yang biasanya menjadi andalan Anda?
2.Mengapa Anda butuh berkolaborasi dengan Tuhan dalam membangun rumah tangga?
3.Bagaimana Anda bisa menjadikan Tuhan sebagai pusat dalam keputusan dan kehidupan keluarga anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, bantu kami agar keluarga kami bisa menjadi Rumah Perjanjian yang berkenan kepada-Mu. Biarlah iman, kasih, dan ketaatan kami menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Pakailah keluarga kami menjadi berkat dan nyatakan kemuliaan-Mu melalui kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 9-11
Matius 15:21-39
WARISAN TERBAIK
RHEMA HARI INI
Ulangan 6:6-7 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Seorang kakek berjalan bersama cucunya menuju sebuah kebun setelah hujan reda. Tanpa disadari, sang cucu melangkah tepat mengikuti jejak-jejak kaki kakeknya di tanah yang masih basah. Ketika sang kakek berbelok, cucunya ikut berbelok. Saat ia melompati genangan air, cucunya pun berusaha melakukan hal yang sama. Melihat itu, sang kakek tersenyum dan berkata dalam hati, "Ternyata bukan hanya kata-kataku yang diikuti, tetapi juga langkah-langkahku." Begitulah kehidupan keluarga. Anak-anak bukan hanya mendengar apa yang kita ajarkan, tetapi juga meniru bagaimana kita menjalani hidup.
Dalam salah satu ketetapan yang Tuhan sampaikan kepada bangsa Israel melalui Musa, Dia memerintahkan agar firman-Nya diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak, dalam setiap momen kehidupan. Menariknya, Musa tidak hanya berbicara tentang mengajar, tetapi juga tentang menghidupi firman itu. Sebab anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada mengingat apa yang mereka dengar. Ketika mereka melihat kasih kita kepada Tuhan, kesetiaan dalam doa, dan ketaatan dalam hidup, mereka sedang menerima warisan yang tidak ternilai. Sebaliknya, tanpa disadari, ketidakkonsistenan kita juga bisa menjadi contoh yang melemahkan iman mereka. Karena itu, membangun warisan rohani membutuhkan kesungguhan dan komitmen yang nyata.
Jika selama ini ada warisan negatif dalam keluarga kita, biarlah semuanya berhenti sampai pada generasi kita. Hari ini, marilah kita membangun warisan yang akan terus hidup jauh setelah kita tidak lagi ada. Jadikan setiap perkataan, keputusan, doa, dan keteladanan sebagai benih iman bagi generasi berikutnya. Mungkin mereka tidak akan mengingat semua nasihat kita, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita mengasihi Tuhan. Ketika firman Tuhan hidup dalam keseharian kita, kita akan merdeka dari warisan negatif dan keluarga kita bisa hidup dalam Rumah Perjanjian dengan Tuhan. (MC)
RENUNGAN:
WARISAN TERBAIK yang dapat kita tinggalkan adalah HATI YANG MENGASIHI TUHAN dan TELADAN HIDUP bagi generasi berikutnya.
APLIKASI
1.Warisan seperti apa yang selama ini Anda siapkan bagi generasi berikutnya?
2.Mengapa Anda perlu menanamkan kasih kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari keluarga Anda?
3.Langkah apa yang akan Anda lakukan untuk membangun warisan iman yang kuat?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, kami bersyukur atas kesempatan membangun warisan iman dalam keluarga kami. Tolong kami memiliki hati yang mengasihi-Mu dengan sungguh. Jadikan hidup kami teladan bagi generasi berikutnya. Ajari kami setia mengajarkan firman-Mu dalam setiap kesempatan. Pimpin langkah kami selalu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 7-8
Matius 15:1-20
KEMERDEKAAN HARUS DIJAGA
RHEMA HARI INI
Galatia 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
Seorang ayah dibesarkan dalam keluarga yang penuh kemarahan. Setelah mengenal Kristus, ia belajar mengampuni dan tidak lagi mudah meledak. Hubungannya dengan istri dan anak-anak pun mulai dipulihkan. Namun, bertahun-tahun kemudian, tekanan pekerjaan membuatnya perlahan menjauh dari Tuhan. Ia mulai kehilangan waktu doa dan jarang merenungkan firman. Tanpa disadari, ia kembali mudah marah seperti dahulu. Suatu hari, ia terdiam ketika melihat anaknya memarahi adiknya dengan cara yang sama seperti dirinya. Saat itulah ia menyadari bahwa kemerdekaan yang telah diberikan Kristus perlu dijaga setiap hari.
Ya, kemerdekaan dari warisan negatif adalah anugerah yang diberikan oleh Kristus melalui karya salib-Nya. Namun, Galatia 5:1 mengingatkan agar kita berdiri teguh dan tidak kembali pada kuk perhambaan. Artinya, ada tanggung jawab bagi setiap orang percaya untuk mempertahankan kebebasan yang sudah diberikan Tuhan. Kemerdekaan bukan berarti kita bebas hidup sembarangan, tetapi justru hidup dengan kesadaran penuh untuk tetap berjalan dalam kebenaran. Hal itu karena kemerdekaan bukan hanya peristiwa yang terjadi sekali di masa lalu, tetapi keputusan yang senantiasa harus dijalani. Setiap harinya kita memilih: tetap berdiri dalam kemerdekaan yang diberikan Kristus atau membiarkan diri kembali terikat oleh pola hidup yang lama.
Karena itu, bangunlah kehidupan yang melekat pada firman, dipimpin oleh Roh Kudus, dan peka terhadap setiap peringatan-Nya. Tolak setiap godaan yang berusaha menarik kita kembali pada kebiasaan lama. Ketika kita terus hidup dekat dengan Kristus, kita dapat membawa keluarga kita hidup dalam Rumah Perjanjian dengan Tuhan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini pun bukan hanya mengubahkan hidup kita, tetapi juga menjadi warisan baru yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya. (MC)
RENUNGAN
KEMERDEKAAN DARI WARISAN NEGATIF bukan hanya harus DITERIMA, tetapi juga perlu DIJAGA setiap hari.
APLIKASI
1.Pola lama apa yang masih berusaha menarik Anda kembali?
2.Mengapa Anda perlu menjaga kemerdekaan yang Tuhan berikan dalam hidup Anda?
3.Langkah apa yang akan Anda lakukan untuk menjaga kemerdekaan dari warisan negatif yang Tuhan berikan?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, kami bersyukur atas kemerdekaan yang Engkau berikan melalui Kristus. Tolong kami menjaga hidup kami agar tidak kembali pada pola lama. Kuatkan iman kami untuk berdiri teguh dalam kebenaran. Pimpin kami oleh Roh Kudus agar hidup kami berkenan kepada-Mu setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran4-6
Matius 14:22-36
Categories
Latest Posts