MEMBANGUN REPUTASI KELUARGA
RHEMA HARI INI
1 Tawarikh 26:8 Mereka sekalian adalah dari keturunan Obed-Edom, yakni mereka sendiri, anak-anak mereka dan saudara-saudara mereka, masing-masing orang yang gagah perkasa, cakap untuk pekerjaan itu, enam puluh dua orang jumlahnya dari Obed-Edom.
John D. Rockefeller dikenal sebagai salah satu orang terkaya dalam sejarah. Namun, ketika membesarkan anak-anaknya, ia tidak ingin kekayaan membuat mereka kehilangan karakter. Keluarga Rockefeller pun menanamkan nilai hidup sederhana, kerja keras, tanggung jawab, penghematan, dan kepedulian kepada sesama. Anak-anak juga dibiasakan berdoa, mengenal firman Tuhan, serta belajar menggunakan uang dengan bijaksana. Nilai-nilai tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Melalui The Rockefeller Foundation, secara turun-temurun mereka mendanai pendidikan, penelitian, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan juga menyediakan lapangan pekerjaan. Yang diwariskan keluarga Rockefeller bukan hanya kekayaan, tetapi juga nilai tentang bagaimana kekayaan itu digunakan: dengan tanggung jawab, iman, dan kepedulian kepada sesama. Sebab kekayaan dapat habis, tetapi nilai hidup yang ditanamkan dalam keluarga dapat terus mempengaruhi generasi berikutnya.
Prinsip serupa terlihat dalam 1 Tawarikh 26:8. Ketika mencatat keturunan Obed-Edom, Alkitab bukan menyebutkan seberapa banyak harta yang mereka miliki, tetapi kualitas mereka: “gagah perkasa dan cakap untuk pekerjaan itu.” Artinya, sesuatu dari kualitas yang dibangun dalam satu generasi dapat terlihat pada generasi berikutnya.
Demikian pula keluarga kita. Kita mungkin tidak mampu membangun kekayaan besar bagi keluarga, tetapi kita dapat membangun sesuatu yang jauh lebih bernilai: iman, integritas, kasih, tanggung jawab, kerja keras, dan takut akan Tuhan. Kita tidak perlu menjadi keluarga yang sempurna, tetapi jadilah keluarga yang terus memilih hidup benar, membangun nama baik, dan mewariskan nilai-nilai yang memuliakan Tuhan. Itulah keluarga penuh kemuliaan. Keluarga yang menjadikan rumahnya Rumah Perjanjian, tempat Tuhan diutamakan dan dimuliakan. (KK)
RENUNGAN
REPUTASI KELUARGA bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, tetapi DIBANGUN melalui NILAI HIDUP YANG DIJALANI secara turun-temurun.
APLIKASI
1.Ketika nama keluarga Anda disebut, reputasi seperti apa yang orang ingat tentang keluarga Anda?
2.Bagaimana Anda bisa menjadi teladan dan membangun nilai hidup kepada generasi berikutnya?
3.Jika suatu hari anak cucu Anda menceritakan tentang Anda, apa yang Anda ingin mereka katakan tentang iman, karakter, dan kehidupan Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, kami rindu membangun keluarga yang bukan hanya sukses, tetapi memiliki nama baik dan hidup yang memuliakan-Mu. Tolong kami menjadi teladan dalam iman, kasih, kejujuran, dan integritas, sehingga nilai-nilai yang kami hidupi hari ini dapat menjadi warisan bagi anak cucu kami. Jadikan keluarga kami Noble Family yang menjadi berkat bagi banyak orang. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 29-30
Matius 21:23-46
KEMULIAAN KELUARGA
RHEMA HARI INI
Amsal 22:1 JIKA engkau harus memilih, pilihlah nama baik daripada kekayaan yang besar; karena dikasihi dan dihormati orang lebih baik daripada perak dan emas. (FAYH)
Kornelius adalah seorang perwira Romawi di Kaisarea yang dikenal sebagai orang saleh dan takut akan Tuhan (Kis. 10). Ia tekun berdoa dan suka menolong sesama. Namun, yang menarik bukan hanya kehidupan pribadinya. Ia serta seisi rumahnya dikenal takut akan Allah. Ketika seorang malaikat Tuhan memerintahkannya memanggil Petrus, Kornelius tidak menyimpan pengalaman itu untuk dirinya sendiri. Ia mengumpulkan sanak saudara dan orang-orang dekatnya untuk mendengarkan firman Tuhan. Kemudian, saat Petrus memberitakan tentang Yesus Kristus, Roh Kudus turun atas mereka yang mendengarkan. Akhirnya, Kornelius dan orang-orang yang mendengarkan Injil bersamanya dibaptis.
Kehidupan Kornelius menunjukkan bahwa kemuliaan sebuah keluarga tidak hanya terlihat dari apa yang dimiliki, tetapi dari nilai yang dihidupi. Amsal 22:1 mengingatkan bahwa nama baik lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Keluarga yang terhormat bukanlah keluarga yang paling kaya atau paling ternama, melainkan keluarga yang kehidupannya membuat nama Tuhan dihormati. Kemuliaan keluarga bukan terutama tentang seberapa tinggi keluarga itu dipandang manusia, tetapi tentang seberapa jelas karakter Kristus terlihat melalui kehidupan mereka.
Ya, status sosial dan harta kekayaan tidak serta-merta menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang penuh kemuliaan. Banyak keluarga kaya tetapi miskin kasih. Ada keluarga yang terkenal tetapi hidupnya tidak bisa menjadi teladan. Karena itu, bangunlah keluarga yang memiliki nilai yang layak dihormati. Ajarkan kejujuran, hidupi integritas, tunjukkan kasih, dan jadikan takut akan Tuhan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga keluarga kita bisa menjadi Rumah Perjanjian tempat hadirat-Nya dinyatakan. Bagaimanapun, yang Tuhan cari bukanlah keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang melalui kehidupannya, nama-Nya semakin dimuliakan. (CG)
RENUNGAN
KEMULIAAN KELUARGA ditentukan oleh SIAPA kita DI HADAPAN TUHAN dan BAGAIMANA KITA HIDUP di hadapan manusia.
APLIKASI
1.Nilai apa yang sedang Anda tanamkan dalam keluarga Anda hari ini?
2.Mengapa Anda perlu menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan generasi berikutnya?
3.Komitmen apa yang bisa Anda ambil agar keluarga Anda bisa menjadi keluarga terhormat?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, jadikan keluarga kami keluarga yang kokoh, penuh kasih, dan berkenan kepada-Mu. Biarlah kehidupan kami menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Kami percaya Engkau sedang membangun keluarga kami untuk menyatakan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 27-28
Matius 21:1-22
RUMAH TANGGA YANG BERNILAI KEKAL
RHEMA HARI INI
Matius 7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Sepasang suami istri menerima sebidang tanah dan sudah memiliki bayangan rumah yang ingin ditinggali. Mereka pun membuat denah, memilih bahan, lalu mulai bekerja. Hari demi hari, sedikit demi sedikit, rumah itu dibangun. Ada batu yang diletakkan, dinding yang ditegakkan, bagian yang diperbaiki, bahkan kesalahan yang harus dibongkar dan dikerjakan ulang. Begitu pula dengan pernikahan. Tuhan tidak memberikan rumah tangga yang sudah jadi, tetapi mempercayakan suami dan istri untuk membangun bersama-Nya. Setiap hari, mereka meletakkan “batu” melalui keputusan-keputusan yang diambil. Setiap kata yang membangun, doa bersama, pelukan, dan kesetiaan adalah batu-batu yang disusun bersama. Ribuan keputusan kecil yang dilakukan dengan setia akhirnya membentuk rumah tangga yang mereka diami bersama.
Yesus berkata bahwa orang yang bijaksana bukan hanya orang yang mendengar perkataan-Nya, tetapi juga melakukannya. Dengan demikian, menjadikan Kristus sebagai dasar rumah tangga berarti membiarkan firman-Nya menentukan bagaimana kita berbicara, mengasihi, mengambil keputusan, mengampuni, dan menghadapi perbedaan. Ya, Tuhan tidak membangun semuanya menggantikan kita. Dia memberikan arah dan menuntun kita untuk membangun bersama-Nya. Kita membangun sambil belajar, sambil memperbaiki, sambil bertumbuh.
Suatu hari, kita mungkin tidak lagi mengingat setiap batu yang pernah diletakkan. Kita mungkin lupa percakapan mana yang menyelesaikan masalah, doa mana yang menguatkan, atau pengampunan mana yang menyelamatkan sebuah pertengkaran. Namun semua keputusan kecil itu telah menjadi bagian dari rumah yang kita bangun bersama. Bagaimanapun, Tuhan tidak hanya memanggil suami dan istri untuk tinggal bersama dalam sebuah rumah, tetapi untuk bersama-sama membangun keluarga yang sesuai dengan visi-Nya. Saat kita taat mengikuti arahan-Nya, Dia pun akan membawa kita masuk ke dalam Rumah Perjanjian untuk menggenapi rencana-Nya melalui keluarga kita. (MV.L)
RENUNGAN
Ketika kita MEMBANGUN RUMAH TANGGA BERSAMA TUHAN, maka semua yang kita bangun akan BERNILAI KEKAL.
APLIKASI
1.Bagaimana cara Anda menjalani atau membangun rumah tangga Anda selama ini?
2.Mengapa rumah tangga yang kita bangun bersama Tuhan bernilai kekal?
3.Bagaimana Anda bisa mulai membangun rumah tangga Anda bersama Tuhan?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa yang baik, kami mau membangun rumah tangga kami bersama-Mu. Jadilah kepala atas kami dan tuntun setiap langkah dan keputusan kami, sehingga rumah tangga kami tidak hanya kokoh, tetapi juga menggenapi rencana besar-Mu atas kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 23-24
Matius 20:1-16
KUNCI MEMBANGUN PERNIKAHAN YANG SEHAT
RHEMA HARI INI
Amsal 20:5 Isi hati orang ibarat air sumur yang dalam; tapi bisa ditimba oleh orang yang punya pengertian. (BIS)
Setiap malam, setelah anak-anak tidur, sepasang suami istri duduk bersama di meja makan. Mereka membicarakan pekerjaan, tagihan, jadwal anak, dan berbagai urusan rumah tangga. Mereka hampir selalu berbicara, tetapi jarang benar-benar membicarakan isi hati. Sampai suatu malam, sang istri berkata, “Aku sebenarnya sudah beberapa minggu merasa sendirian.” Suaminya terkejut, “Tapi setiap hari kita ngobrol.” Saat itulah mereka menyadari bahwa banyak berbicara belum tentu artinya saling memahami. Di balik percakapan sehari-hari, ada hati yang menyimpan kelelahan, kekhawatiran, dan kerinduan untuk didengarkan.
Amsal 20:5 berkata bahwa isi hati orang ibarat air sumur yang dalam, yang perlu ditimba terlebih dulu dengan bijak. Seperti air di dasar sumur, maksud hati seseorang tidak selalu terlihat dari apa yang diucapkannya. Kita perlu menimba lebih dalam untuk menemukannya. Demikian pula untuk mengenal hati pasangan, dibutuhkan usaha lebih untuk memberikan perhatian, kemauan untuk memahami apa yang ia rasakan, dan hikmat Tuhan untuk menjawab kebutuhan hatinya.
Karena itu, belajarlah untuk mengenal hati pasangan kita. Mulailah sungguh-sungguh mendengarkan untuk memahami, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara. Bertanyalah dengan tulus, berilah ruang, dengarkan tanpa menghakimi, berusahalah memahami, lalu responi dengan kasih. Jangan sampai percakapan rutin dan keengganan menciptakan jarak, tetapi ciptakan ruang untuk saling mendengarkan setiap hari. Ketika suami dan istri sama-sama belajar memahami apa yang ada di balik kata-kata, kesalahpahaman dapat diselesaikan dan kedekatan emosional semakin bertumbuh. Saat ada dua hati yang bersedia saling mengenal, memahami, dan bertumbuh bersama dalam Tuhan, mereka bukan hanya membangun rumah tangga yang kuat, tetapi bersama-sama membangun Rumah Perjanjian yang memuliakan Tuhan. (MV.L)
RENUNGAN
Untuk membangun PERNIKAHAN YANG SEHAT, kita perlu belajar membangun KOMUNIKASI DARI HATI KE HATI dengan pasangan.
APLIKASI
1.Bagaimanakah biasanya Anda berkomunikasi dengan pasangan?
2.Mengapa komunikasi dari hati ke hati diperlukan untuk membangun pernikahan yang sehati?
3.Bagaimana Anda bisa membangun komunikasi dari hati ke hati dengan pasangan?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa yang baik, terima kasih sudah mengingatkan kami untuk membangun komunikasi dari hati ke hati dengan pasangan. Bimbing kami dan berikan kami hikmat sehingga kami dapat membangun pernikahan yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 21-22
Matius 19
KOMUNIKASI YANG MENJAGA KASIH TETAP HIDUP
RHEMA HARI INI
Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Sepulang kerja, seorang suami mendapati istrinya belum menyelesaikan sesuatu yang sudah mereka sepakati. Ia pun berkata spontan, “Kamu selalu begitu. Hal sederhana saja tidak bisa diandalkan.” Sang istri lelah setelah seharian mengurus rumah dan anak. Persoalan kecil itu pun berkembang menjadi pertengkaran. Beberapa waktu kemudian, mereka menyadari bahwa masalah sebenarnya bukan hanya tentang pekerjaan yang belum selesai, melainkan perkataan yang membuat keduanya merasa tidak dihargai. Seandainya sang suami berkata, “Aku kecewa karena ini belum selesai. Ada yang bisa kubantu supaya kita bisa menyelesaikannya bersama?” Kalimat itu mungkin tidak menghilangkan masalah, tetapi membuka ruang untuk mencari jalan keluar bersama tanpa saling melukai.
Efesus 4:29 mengingatkan bahwa perkataan orang percaya seharusnya membangun dan memberikan kasih karunia. Dalam rumah tangga, komunikasi yang sehat bukan berarti selalu menghindari perbedaan atau mengatakan hal-hal yang menyenangkan. Ada kalanya kita perlu menyampaikan ketidaksetujuan atau menegur. Namun, pastikan bahwa perkataan kita bertujuan membangun, bukan menyindir, menyalahkan, atau memenangkan pertengkaran. Sebelum berbicara, berhentilah sejenak dan tanyakan, “Apakah perkataanku akan membawa kami semakin dekat atau justru semakin jauh?”
Hari ini, belajarlah mendengarkan, berbicara dengan kasih, meminta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Ketika suami dan istri sama-sama menjaga perkataan, masalah tidak harus menjadi tembok yang memisahkan. Sebaliknya, setiap percakapan dapat menjadi kesempatan untuk saling memahami dan membangun kembali. Penting untuk kita ingat bahwa rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah, tetapi rumah tangga yang mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan kasih. Saat kita membangun rumah tangga dengan kasih Tuhan bersama pasangan, keluarga kita pun akan menjadi Rumah Perjanjian. (AO)
RENUNGAN
KOMUNIKASI yang SEHAT dalam rumah tangga menjaga KASIH TETAP HIDUP.
APLIKASI
1.Bagaimana biasanya Anda berbicara dengan pasangan saat dilanda emosi?
2.Mengapa kita perlu membiasakan untuk memilih kata-kata yang membangun, bukan yang melukai?
3.Bagaimana Anda bisa membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, ajar kami menjaga perkataan dalam keluarga. Berikan kami kelembutan untuk berbicara, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan kasih untuk saling menguatkan. Biarlah komunikasi yang sehat membuat kasih-Mu terus hidup dalam rumah tangga kami.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 19-20
Matius 18:21-35
PELAJARAN SAAT MEMBANGUN RUMAH TANGGA
RHEMA HARI INI
Filipi 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Membangun rumah tangga dapat diibaratkan seperti menyusun puzzle. Ada begitu banyak kepingan yang harus disatukan. Masing-masing memiliki bentuk, warna, dan ukuran yang berbeda. Demikian pula suami dan istri: dua pribadi dengan latar belakang, karakter, kebiasaan, cara berpikir, serta keinginan yang tidak selalu sama dipersatukan dalam satu kehidupan. Persoalannya, kita terkadang ingin pasangan mengikuti “bentuk kepingan” kita. Kita ingin ia memahami cara berpikir, mengikuti keinginan, bahkan mengakui bahwa kitalah yang paling benar. Padahal, dalam menyusun puzzle, tidak semua kepingan langsung cocok. Pasangan harus sama-sama memikirkan dan memutar kepingan puzzle, sehingga mereka bisa melihat gambar yang berbeda, sehingga kepingan itu bisa menemukan tempatnya.
Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Ada saatnya kita perlu mengubah cara memandang, berbicara, dan memperlakukan pasangan. Filipi 2:3 mengajarkan kita untuk tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama. Kerendahan hati bukan berarti kehilangan harga diri atau selalu mengalah, tetapi bersedia membuka hati untuk mendengarkan, mengakui kesalahan, memahami pasangan, dan memilih kasih daripada keinginan untuk selalu menang. Ketika suami dan istri sama-sama bersedia melepaskan ego dan menempatkan Kristus sebagai pusat rumah tangga, kepingan-kepingan yang berbeda perlahan menemukan tempatnya. Bukan karena keduanya telah menjadi sempurna, tetapi karena anugerah Tuhan terus menyatukan dan membentuk mereka.
Karena itu, belajarlah mengalah tanpa merasa kalah, mengampuni tanpa menyimpan kepahitan, dan memahami tanpa menuntut untuk dipahami. Sebab rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh dua pribadi yang selalu sama, tetapi oleh dua hati yang sama-sama bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, suami istri bukan hanya membangun rumah tangga, tetapi Rumah Perjanjian tempat kasih Tuhan dinyatakan. (OSA)
RENUNGAN
Saat membangun rumah tangga, suami dan istri harus belajar MELEPASKAN EGO dan biarkan KASIH MEMIMPIN.
APLIKASI
1.Sudahkah Anda melepaskan ego dalam membangun kehidupan rumah tangga? Mengapa?
2.Mengapa Anda perlu melepaskan ego dalam membangun rumah tangga?
3.Apa yang Anda lakukan supaya kasih Kristus saja yang memimpin dalam rumah tangga?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, terima kasih untuk kasih setia-Mu dalam kehidupan kami. Kami mau mengutamakan Engkau dalam kehidupan rumah tangga kami. Mampukan kami untuk melepaskan ego kami masing-masing, sehingga kehidupan rumah tangga kami hanya dipimpin oleh kasih-Mu saja, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 16-18
Matius 18:1-20
Categories
Latest Posts