KELUARGA YANG KOKOH DALAM TUHAN
RHEMA HARI INI
Matius 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Ada rumah yang dibangun dengan desain termutakhir dan banyak ornamen tambahan. Rumah itu pun mengundang banyak kekaguman. Namun, beberapa tahun kemudian, cat dindingnya mengelupas, atap rumahnya sudah ditambal beberapa kali, beberapa ornamennya copot, bahkan dindingnya retak di berbagai tempat. Ya, sebuah rumah mungkin terlihat indah ketika cuaca cerah. Namun, kekuatan sebenarnya baru terlihat ketika hujan turun, angin bertiup, dan badai datang. Begitu juga dengan keluarga. Ketika keadaan baik, mudah bagi sebuah keluarga untuk terlihat harmonis. Namun ketika menghadapi tekanan ekonomi, konflik, kegagalan, kehilangan, atau pergumulan lainnya, barulah terlihat apa yang menjadi dasar kehidupan mereka.
Dalam sebuah perumpamaan, Yesus menggambarkan sebuah rumah yang tetap berdiri kokoh saat badai datang, karena rumah itu dibangun di atas batu.
Dari perumpamaan itu, Tuhan mengajarkan bahwa dasar yang kokoh bukan sekadar mendengar perkataan-Nya, tetapi juga melakukannya. Demikian pula keluarga yang mulia bukan keluarga yang hidupnya tampak sempurna, tetapi keluarga yang menjadikan firman Tuhan sebagai dasar untuk menentukan bagaimana mereka hidup, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan satu sama lain. Ketika badai datang, mereka memilih tetap mengasihi, mengampuni, menjaga kesetiaan, dan mencari Tuhan bersama.
Karena itu, jangan ukur kemuliaan keluarga dari seberapa indah kehidupan yang terlihat dari luar. Ukurlah dari apa yang tetap dipegang ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Keluarga terhormat adalah keluarga yang tetap memilih hidup benar ketika tidak ada yang melihat, tetap menjaga kasih ketika terluka, dan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan ketika menghadapi badai. Keluarga demikianlah yang dapat menjadi Rumah Perjanjian, yang melaluinya dunia dapat melihat bahwa di tengah ketidaksempurnaan maupun segala keadaan, karakter Kristus tetap berdiri teguh dalam hidup mereka. (MV.L)
RENUNGAN
KELUARGA YANG MULIA bukanlah keluarga yang tidak pernah diterpa badai, tetapi keluarga yang TETAP BERDIRI KOKOH SETELAH BADAI BERLALU.
APLIKASI
1.Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan keluarga mulia?
2.Mengapa keluarga yang mulia tetap berdiri kokoh setelah badai berlalu?
3.Langkah apa yang bisa Anda ambil agar keluarga Anda menjadi keluarga mulia yang kokoh dilanda badai?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa yang baik, bimbing kami agar kami bisa menjadi keluarga yang tetap berdiri kokoh meski diterpa badai. Ajar kami agar kami bisa terus memilih menjadi pelaku firman-Mu, apa pun yang terjadi di tengah keluarga kami, sehingga kami pun boleh mempermuliakan nama-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Imamat 1-3
Matius 24:1-28
SEBELUM KEMULIAAN KELUARGA LAHIR
RHEMA HARI INI
Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Dalam film War Room, kehidupan Tony dan Elizabeth Jordan sebagai suami istri terlihat luar biasa. Mereka memiliki karier sukses, rumah indah, dan anak perempuan terkasih. Namun, di balik pintu rumah, pernikahan mereka tengah retak. Pertengkaran, kepahitan, godaan perselingkuhan, dan jarak yang semakin besar antara hati mereka membuat rumah tangga mereka hampir kehilangan harapan. Namun, Elizabeth mulai belajar membawa pergumulannya kepada Tuhan melalui doa. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ada proses ketika Tuhan bekerja dalam hati, menyingkapkan sikap yang perlu diubah, mengajarkan pengampunan, dan menuntun mereka untuk mengambil langkah-langkah baru dalam hubungan mereka. Pada akhirnya, mereka mengalami rekonsiliasi dan membangun kembali keluarga mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Dalam surat Roma, Paulus mengingatkan bahwa penderitaan yang kita alami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan Tuhan. Kemuliaan itu tidak selalu berarti semua masalah langsung hilang atau keluarga akhirnya menjadi sempurna. Kemuliaan keluarga dapat lahir ketika kita bersedia membiarkan Tuhan bekerja melalui proses yang panjang. Membentuk hati, memulihkan hubungan, dan menghasilkan sesuatu yang lebih indah daripada keadaan sebelumnya. Ya, di tengah proses panjang itulah, Dia sedang membangun sesuatu yang bernilai kekal.
Karena itu, jangan menyerah hanya karena perubahan belum terlihat atas keluarga kita. Teruslah berdoa, belajar mengampuni, memperbaiki komunikasi, dan mengambil keputusan yang benar di hadapan Tuhan. Percayalah, setiap langkah ketaatan hari ini membawa keluarga kita semakin dekat dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan. Keluarga mulia bukan keluarga yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan keluarga yang terus memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja melalui setiap proses. Saat Tuhan bertakhta atas keluarga, rumah kita akan menjadi Rumah Perjanjian tempat kemuliaan-Nya dinyatakan. (MV.L)
RENUNGAN
KEMULIAAN KELUARGA tidak muncul begitu saja secara instan, tetapi LAHIR MELALUI PROSES panjang.
APLIKASI
1.Proses seperti apa yang tengah Anda dan keluarga alami saat ini?
2.Mengapa Anda perlu taat dan berserah dalam proses itu?
3.Langkah apa yang dapat Anda ambil untuk setia dalam proses yang Tuhan kerjakan dalam keluarga Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa yang baik, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami dalam proses yang kami alami. Tuntun kami, agar kami bisa taat dalam setiap kehendak-Mu atas keluarga kami. Biarlah melalui proses panjang yang kami lalui, keluarga kami bisa menjadi keluarga yang menyenangkan hati-Mu dan menyatakan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 39-40
Matius 23:23-39
RAHASIA KELUARGA TERHORMAT
RHEMA HARI INI
Roma 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
Susanna Wesley membesarkan keluarganya dalam keadaan yang tidak selalu mudah. Di tengah keluarga besar, ia dengan tekun membangun kehidupan rumah yang dipenuhi doa, disiplin, pendidikan, dan kasih. Anak-anaknya tidak hanya diajar untuk mengenal Tuhan, tetapi juga belajar menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang mereka lihat dan rasakan di rumah. Kelak, John Wesley dan Charles Wesley dipakai Tuhan dalam pelayanan penginjilan yang berdampak luas. Namun, warisan Susanna bukan sekadar tentang apa yang dicapai anak-anaknya, melainkan tentang nilai-nilai yang ditanamkan dalam kehidupan keluarga setiap hari.
Dalam surat Roma, Rasul Paulus mengajarkan bahwa kasih diwujudkan melalui sikap saling menghormati. Hormat bukan sekadar kata-kata yang sopan, tetapi sikap yang menunjukkan bahwa kita menghargai keberadaan, perasaan, dan martabat anggota keluarga. Sebelum anak belajar menghormati orang lain, ia belajar dari cara orangtuanya memperlakukannya. Demikian pula suami dan istri membangun budaya hormat melalui cara mereka berbicara, mendengarkan, dan memperlakukan satu sama lain. Itu sebabnya, budaya hormat tidak boleh hanya ditampilkan di hadapan orang lain, tetapi harus menjadi kebiasaan di dalam rumah.
Hari ini, mari kita membangun keluarga kita dari hal yang sederhana. Mulailah belajar berbicara dengan lembut, dengarkan tanpa meremehkan, ucapkan terima kasih, hargai perbedaan, dan beranilah meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Keluarga terhormat bukanlah keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang memilih untuk saling mengasihi dan menghormati setiap hari. Ketika kasih dan hormat menjadi budaya di dalam rumah, rumah tangga kita akan dibagun menjadi Rumah Perjanjian. Keluarga kita pun dapat menjadi kesaksian tentang kasih Kristus bagi orang-orang di sekitar kita. (AO)
RENUNGAN:
Sebelum dunia memandang kita sebagai KELUARGA TERHORMAT, kita harus lebih dulu membangun BUDAYA SALING MENGHORMATI di dalam rumah.
APLIKASI
1.Bagaimana Anda membangun keluarga Anda selama ini?
2.Mengapa Anda perlu belajar untuk tetap berbicara dengan sopan dan hormat meskipun sedang berbeda pendapat?
3.Bagaimana Anda bisa menjadikan kasih dan penghormatan sebagai kebiasaan dalam keluarga Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus yang baik, ajar kami membangun keluarga yang dipenuhi kasih dan saling menghormati. Tolong kami menjaga perkataan dan sikap kepada setiap anggota keluarga. Biarlah rumah kami menjadi tempat kasih-Mu dinyatakan dan nama-Mu dimuliakan.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 36-38
Matius 23:1-22
KUNCI KELUARGA PENUH KEMULIAAN
RHEMA HARI INI
Mazmur 24:7 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Rahab namanya. Ia memiliki reputasi dan masa lalu yang kelam. Ia hidup di tengah masyarakat yang tidak mengenal Tuhan. Namun, saat mendengar tentang kebesaran Tuhan Israel, Rahab memilih percaya. Ketika dua mata-mata yang diutus Yosua datang ke Yerikho, ia membuka pintu rumahnya bagi mereka (Yos. 2:1-11). Saat itu, bukan hanya dua orang tersebut yang diundangnya masuk, tetapi Tuhan sendiri. Keputusan imannya bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi juga membawa keselamatan bagi keluarganya (Yos 6:22–25). Bukan itu saja, Rahab kemudian menjadi bagian dari garis keturunan Daud dan akhirnya tercatat dalam silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:5-6).
Seperti Rahab yang membuka pintu rumahnya karena iman, Mazmur 24:7 menggambarkan sebuah pintu gerbang yang dibuka bagi Raja Kemuliaan. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa sebuah rumah tangga juga membutuhkan keputusan untuk membuka pintu dan memberi Tuhan tempat untuk memerintah di dalamnya. Mungkin keadaan keluarga kita hari ini belum seperti yang kita harapkan. Ada masa lalu, masalah, atau kelemahan yang membuat kita merasa keluarga kita jauh dari kata mulia. Namun, keluarga yang mulia bukanlah keluarga yang tanpa masalah, melainkan keluarga yang menjadikan Tuhan sebagai pusat dan membiarkan nilai-nilai-Nya menentukan cara mereka menjalani kehidupan.
Percayalah, ketika Tuhan diberi tempat untuk bertakhta di hidup kita, Dia dapat memulai perubahan dari satu hati, lalu membawa dampaknya kepada seluruh keluarga. Ya, bukalah pintu rumah tangga kita bagi Raja Kemuliaan. Biarlah Tuhan menjadi pusat dalam setiap keputusan, hubungan, dan nilai yang kita bangun bersama. Sebab keluarga yang penuh kemuliaan bukan keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang menyerahkan seisi rumahnya sebagai Rumah Perjanjian dan memberi ruang bagi Raja Kemuliaan untuk memerintah. (OSA)
RENUNGAN
Kunci utama menjadikan keluarga kita TERHORMAT dan PENUH KEMULIAAN adalah MENGUNDANG RAJA KEMULIAAN memerintah dalam keluarga.
APLIKASI
1.Apakah Anda sudah mengundang Raja Kemuliaan dalam keluarga? Mengapa?
2.Mengapa Anda perlu mengundang Raja Kemuliaan memerintah dalam keluarga Anda?
3.Langkah apa yang dapat Anda ambil agar Yesus sungguh-sungguh menjadi Raja Kemuliaan atas keluarga Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, kami bersyukur atas keluarga yang kami miliki. Kami mau mengundang Engkau menjadi Raja Kemuliaan atas keluarga kami. Pimpinlah keluarga kami seturut dengan kehendak-Mu dan biarlah kemuliaan-Mu boleh dinyatakan atas keluarga kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 34-35
Matius 22:23-46
KARYA TUHAN MELALUI KELUARGA KITA
RHEMA HARI INI
1 Korintus 1:27-28 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,
Favoritisme, kecemburuan, persaingan, kebohongan, dan konflik antarsaudara. Keluarga Yusuf penuh kekacauan. Puncaknya, kakak-kakak Yusuf tega menjualnya ke Mesir karena iri hati. Sungguh keluarga yang jauh dari kata sempurna. Namun, di tengah keluarga yang penuh dengan persoalan itu, Tuhan tetap bekerja. Bertahun-tahun kemudian, ketika kelaparan melanda, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk mencari pertolongan. Tanpa mereka sadari, mereka menghadap Yusuf, saudara yang dahulu mereka sakiti. Yusuf bisa saja membalas dendam, tetapi ia memilih mengampuni. Melalui pilihan itu, Tuhan bukan hanya menyelamatkan keluarga Yusuf, tetapi satu bangsa dari kelaparan. Apa yang tampak sebagai kehancuran di mata manusia, ternyata dapat menjadi bagian dari karya besar Allah.
Kisah Yusuf selaras dengan 1 Korintus 1:27-28. Dunia menilai seseorang dari latar belakang, keberhasilan, status, atau reputasinya, tetapi Allah tidak dibatasi oleh penilaian manusia. Dia sanggup bekerja melalui pribadi dan keluarga yang hancur, lemah, tampak hina, bahkan melalui keadaan yang tampaknya jauh dari ideal. Ketidaksempurnaan dan banyaknya persoalan kita bukan penghalang bagi Allah untuk memulai sesuatu yang baru.
Karena itu, berhentilah membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain. Jangan pula menunggu keadaan sempurna. Mulailah dari hal-hal sederhana: belajar mengampuni, membangun komunikasi yang baik, saling mendoakan, menghormati orangtua, mengasihi pasangan, mendidik anak dalam firman Tuhan, dan menjadikan rumah sebagai tempat hadirnya kasih Kristus. Keluarga kita mungkin jauh dari sempurna, tetapi ketika kita bersedia dipakai Tuhan, keluarga kita akan menjadi Rumah Perjanjian, rumah tempat karya-Nya dimulai, sehingga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang memancarkan kemuliaan-Nya. (AM).
RENUNGAN
Tuhan bisa MEMULAI KARYA-NYA dan MEMAKAI keluarga yang JAUH DARI KATA SEMPURNA di mata manusia.
APLIKASI
1.Bagaimanakan Anda memandang keluarga Anda selama ini?
2.Mengapa Tuhan bisa dan mau memakai keluarga Anda untuk karya-Nya?
3.Langkah nyata apa yang dapat Anda ambil agar Tuhan dapat memulai karyanya dalam keluarga Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, kami mengakui bahwa keluarga kami tidak sempurna. Ada kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan mungkin juga luka yang belum selesai. Tapi hari ini kami menyerahkan keluarga kami ke dalam tangan-Mu. Pakailah kami. Mulailah karya-Mu dalam rumah kami. Biarlah melalui keluarga kami, banyak orang dapat melihat kasih dan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 31-33
Matius 22:1-22
MEMBANGUN REPUTASI KELUARGA
RHEMA HARI INI
1 Tawarikh 26:8 Mereka sekalian adalah dari keturunan Obed-Edom, yakni mereka sendiri, anak-anak mereka dan saudara-saudara mereka, masing-masing orang yang gagah perkasa, cakap untuk pekerjaan itu, enam puluh dua orang jumlahnya dari Obed-Edom.
John D. Rockefeller dikenal sebagai salah satu orang terkaya dalam sejarah. Namun, ketika membesarkan anak-anaknya, ia tidak ingin kekayaan membuat mereka kehilangan karakter. Keluarga Rockefeller pun menanamkan nilai hidup sederhana, kerja keras, tanggung jawab, penghematan, dan kepedulian kepada sesama. Anak-anak juga dibiasakan berdoa, mengenal firman Tuhan, serta belajar menggunakan uang dengan bijaksana. Nilai-nilai tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Melalui The Rockefeller Foundation, secara turun-temurun mereka mendanai pendidikan, penelitian, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan juga menyediakan lapangan pekerjaan. Yang diwariskan keluarga Rockefeller bukan hanya kekayaan, tetapi juga nilai tentang bagaimana kekayaan itu digunakan: dengan tanggung jawab, iman, dan kepedulian kepada sesama. Sebab kekayaan dapat habis, tetapi nilai hidup yang ditanamkan dalam keluarga dapat terus mempengaruhi generasi berikutnya.
Prinsip serupa terlihat dalam 1 Tawarikh 26:8. Ketika mencatat keturunan Obed-Edom, Alkitab bukan menyebutkan seberapa banyak harta yang mereka miliki, tetapi kualitas mereka: “gagah perkasa dan cakap untuk pekerjaan itu.” Artinya, sesuatu dari kualitas yang dibangun dalam satu generasi dapat terlihat pada generasi berikutnya.
Demikian pula keluarga kita. Kita mungkin tidak mampu membangun kekayaan besar bagi keluarga, tetapi kita dapat membangun sesuatu yang jauh lebih bernilai: iman, integritas, kasih, tanggung jawab, kerja keras, dan takut akan Tuhan. Kita tidak perlu menjadi keluarga yang sempurna, tetapi jadilah keluarga yang terus memilih hidup benar, membangun nama baik, dan mewariskan nilai-nilai yang memuliakan Tuhan. Itulah keluarga penuh kemuliaan. Keluarga yang menjadikan rumahnya Rumah Perjanjian, tempat Tuhan diutamakan dan dimuliakan. (KK)
RENUNGAN
REPUTASI KELUARGA bukanlah sesuatu yang bisa dibeli, tetapi DIBANGUN melalui NILAI HIDUP YANG DIJALANI secara turun-temurun.
APLIKASI
1.Ketika nama keluarga Anda disebut, reputasi seperti apa yang orang ingat tentang keluarga Anda?
2.Bagaimana Anda bisa menjadi teladan dan membangun nilai hidup kepada generasi berikutnya?
3.Jika suatu hari anak cucu Anda menceritakan tentang Anda, apa yang Anda ingin mereka katakan tentang iman, karakter, dan kehidupan Anda?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, kami rindu membangun keluarga yang bukan hanya sukses, tetapi memiliki nama baik dan hidup yang memuliakan-Mu. Tolong kami menjadi teladan dalam iman, kasih, kejujuran, dan integritas, sehingga nilai-nilai yang kami hidupi hari ini dapat menjadi warisan bagi anak cucu kami. Jadikan keluarga kami Noble Family yang menjadi berkat bagi banyak orang. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Keluaran 29-30
Matius 21:23-46
Categories
Latest Posts