RUMAH UNTUK PULANG

08 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Amsal 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Pada tahun 1938, ketika ancaman dan penganiayaan Nazi semakin meningkat, seorang Inggris bernama Nicholas Winton pergi ke Praha, Cekoslowakia. Di sana ia melihat banyak anak yang terancam dan membutuhkan pertolongan. Anak-anak itu bukan keluarganya, ia bahkan tidak mengenal mereka. Namun Winton tergerak untuk menolong. Ia mengatur perjalanan bagi mereka ke Inggris dan mencarikan keluarga yang bersedia menerima mereka. Melalui usahanya, 669 anak berhasil diselamatkan. Bayangkan, anak-anak yang tengah kehilangan rasa aman mendapati ada orang-orang yang membuka pintu rumah bagi mereka dan berkata, “Kami akan menerima kalian, datanglah kepada kami.” Anak-anak tersebut akhirnya memiliki tempat berlindung, memiliki keluarga, serta memiliki kesempatan untuk hidup dan memiliki masa depan. Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Hal ini mengingatkan kita bahwa keluarga yang sejati bukan hanya hadir ketika kita sedang berhasil, tetapi juga ketika kita sedang dalam kesukaran. Seseorang di sekitar kita yang sedang kesepian, terluka, gagal, atau merasa tidak layak mungkin tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Aku ada untukmu, aku mau mendengarkan, mari kita berjalan bersama.” Tidak semua orang memiliki rumah yang sempurna. Namun kabar baiknya, di dalam Kristus, selalu ada rumah untuk pulang. Ada Bapa yang menerima, dan ada keluarga rohani yang Tuhan sediakan untuk berjalan bersama kita. Itulah Keluarga Allah sebagai House of Grace—Rumah Anugerah, tempat setiap orang boleh datang apa adanya, diterima, dikasihi, dipulihkan, dan dikuatkan. Kelompok sel menjadi “rumah kecil” di dalamnya—bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi tempat kita belajar mengasihi, menerima, mendoakan, menolong, dan bertumbuh bersama. Sebab Rumah Anugerah bukanlah rumah bagi orang-orang yang sempurna, melainkan tempat bagi hati yang hancur untuk menemukan rasa aman, bagi yang lemah untuk dikuatkan, dan bagi setiap orang untuk mengalami bahwa mereka tidak sendirian, karena di dalam Keluarga Allah selalu ada tempat untuk pulang. (KK) RENUNGAN RUMAH ANUGERAH bukan sekadar tempat untuk pulang, tetapi tempat hati menemukan KASIH, PENERIMAAN, dan PERTUMBUHAN. APLIKASI 1.Apakah rumah dan rumah rohani Anda sudah menjadi tempat orang-orang merasakan kasih, penerimaan, dan rasa aman? 2.Siapakah seseorang di keluarga, gereja, atau kelompok sel yang mungkin sedang merasa kesepian atau terluka dan membutuhkan Anda untuk hadir baginya? 3.Apa satu tindakan nyata yang dapat Anda lakukan minggu ini untuk menjadi “Rumah Anugerah” bagi seseorang? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, terima kasih untuk keluarga dan saudara seiman yang Engkau anugerahkan dalam hidup kami. Jadikanlah kami Rumah Anugerah—yang penuh kasih, penerimaan, dan pemulihan. Pakai hidup kami untuk menjadi tempat yang aman bagi mereka yang terluka dan menguatkan mereka yang lemah. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Imamat 6-7 Matius 25:1-30

Baca Artikel  

BERKAT YANG TIDAK SELALU TERLIHAT

07 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Efesus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Nick Vujicic sangat sering berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk diberi kaki dan tangan, tetapi Tuhan tidak memberikan apa yang ia minta. Orang lain bisa berkata, “Nick kurang diberkati.” Namun kita bisa melihat hidupnya sekarang. Nick tidak memiliki tangan untuk memeluk, tetapi perkataannya telah memeluk jutaan orang dengan kasih. Nick tidak memiliki kaki untuk berjalan seperti kita, tetapi Tuhan membawa Nick pergi ke berbagai tempat untuk membagikan pengharapan. Berkat dari Tuhan tidak selalu berupa hal fisik yang kita minta. Sering kali, Tuhan justru memberi kita kekuatan untuk menjalani segala keadaan. Tanpa kita sadari, itu bisa menjadi berkat yang jauh lebih besar. Dalam Efesus 1:3, Rasul Paulus tidak sedang berbicara tentang berkat jasmani, tetapi tentang segala berkat rohani yang telah Tuhan karuniakan kepada kita di dalam Kristus. Tentu saja bukan berarti Tuhan tidak memberi berkat jasmani, tetapi Rasul Paulus sedang mengajarkan sebuah prinsip penting: jangan sampai kita hanya berfokus pada berkat yang kelihatan dan dapat kita genggam, sementara mengabaikan berkat rohani yang Tuhan berikan kepada kita di dalam Kristus. Karena itu, jangan hanya berfokus pada berkat jasmani yang berupa barang atau materi. Ada berkat-berkat dari Tuhan yang jauh lebih bernilai daripada apa yang dapat dilihat oleh mata. Jika kita mengukur kebaikan Tuhan hanya dari apa yang kita miliki, kita bisa melewatkan berkat-berkat terbesar yang sebenarnya telah Tuhan berikan. Mari belajar menghargai dan memperjuangkan setiap berkat dari Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, terutama berkat rohani yang kita terima di dalam Kristus. Salah satunya adalah Keluarga Allah sebagai House of Grace—Rumah Anugerah, keluarga rohani yang Tuhan berikan sebagai tempat untuk kita diterima, dikasihi, bertumbuh, saling menguatkan, dan memiliki rumah untuk pulang. (CG) RENUNGAN Tidak semua BERKAT berwujud; berkat yang PALING BERHARGA justru TIDAK DAPAT DILIHAT OLEH MATA. APLIKASI 1.Berkat seperti apakah yang selama ini Anda doakan kepada Tuhan? 2.Mengapa Anda perlu lebih fokus pada berkat yang tidak terlihat? 3.Bagaimana Anda bisa mulai memfokuskan diri pada berkat yang tak berwujud? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan, kami percaya berkat-Mu tidak selalu terlihat, tetapi selalu nyata. Berikan kami mata iman untuk melihat kebaikan-Mu, hati yang bersyukur, dan kekuatan untuk tetap percaya. Jadikan hidup dan keluarga kami kesaksian tentang kesetiaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Imamat 4-5 Matius 24:29-51

Baca Artikel  

KELUARGA YANG KOKOH DALAM TUHAN

06 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Matius 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Ada rumah yang dibangun dengan desain termutakhir dan banyak ornamen tambahan. Rumah itu pun mengundang banyak kekaguman. Namun, beberapa tahun kemudian, cat dindingnya mengelupas, atap rumahnya sudah ditambal beberapa kali, beberapa ornamennya copot, bahkan dindingnya retak di berbagai tempat. Ya, sebuah rumah mungkin terlihat indah ketika cuaca cerah. Namun, kekuatan sebenarnya baru terlihat ketika hujan turun, angin bertiup, dan badai datang. Begitu juga dengan keluarga. Ketika keadaan baik, mudah bagi sebuah keluarga untuk terlihat harmonis. Namun ketika menghadapi tekanan ekonomi, konflik, kegagalan, kehilangan, atau pergumulan lainnya, barulah terlihat apa yang menjadi dasar kehidupan mereka. Dalam sebuah perumpamaan, Yesus menggambarkan sebuah rumah yang tetap berdiri kokoh saat badai datang, karena rumah itu dibangun di atas batu. Dari perumpamaan itu, Tuhan mengajarkan bahwa dasar yang kokoh bukan sekadar mendengar perkataan-Nya, tetapi juga melakukannya. Demikian pula keluarga yang mulia bukan keluarga yang hidupnya tampak sempurna, tetapi keluarga yang menjadikan firman Tuhan sebagai dasar untuk menentukan bagaimana mereka hidup, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan satu sama lain. Ketika badai datang, mereka memilih tetap mengasihi, mengampuni, menjaga kesetiaan, dan mencari Tuhan bersama. Karena itu, jangan ukur kemuliaan keluarga dari seberapa indah kehidupan yang terlihat dari luar. Ukurlah dari apa yang tetap dipegang ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan. Keluarga terhormat adalah keluarga yang tetap memilih hidup benar ketika tidak ada yang melihat, tetap menjaga kasih ketika terluka, dan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan ketika menghadapi badai. Keluarga demikianlah yang dapat menjadi Rumah Perjanjian, yang melaluinya dunia dapat melihat bahwa di tengah ketidaksempurnaan maupun segala keadaan, karakter Kristus tetap berdiri teguh dalam hidup mereka. (MV.L) RENUNGAN KELUARGA YANG MULIA bukanlah keluarga yang tidak pernah diterpa badai, tetapi keluarga yang TETAP BERDIRI KOKOH SETELAH BADAI BERLALU. APLIKASI 1.Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan keluarga mulia? 2.Mengapa keluarga yang mulia tetap berdiri kokoh setelah badai berlalu? 3.Langkah apa yang bisa Anda ambil agar keluarga Anda menjadi keluarga mulia yang kokoh dilanda badai? DOA UNTUK HARI INI “Bapa yang baik, bimbing kami agar kami bisa menjadi keluarga yang tetap berdiri kokoh meski diterpa badai. Ajar kami agar kami bisa terus memilih menjadi pelaku firman-Mu, apa pun yang terjadi di tengah keluarga kami, sehingga kami pun boleh mempermuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Imamat 1-3 Matius 24:1-28

Baca Artikel  

SEBELUM KEMULIAAN KELUARGA LAHIR

05 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Dalam film War Room, kehidupan Tony dan Elizabeth Jordan sebagai suami istri terlihat luar biasa. Mereka memiliki karier sukses, rumah indah, dan anak perempuan terkasih. Namun, di balik pintu rumah, pernikahan mereka tengah retak. Pertengkaran, kepahitan, godaan perselingkuhan, dan jarak yang semakin besar antara hati mereka membuat rumah tangga mereka hampir kehilangan harapan. Namun, Elizabeth mulai belajar membawa pergumulannya kepada Tuhan melalui doa. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ada proses ketika Tuhan bekerja dalam hati, menyingkapkan sikap yang perlu diubah, mengajarkan pengampunan, dan menuntun mereka untuk mengambil langkah-langkah baru dalam hubungan mereka. Pada akhirnya, mereka mengalami rekonsiliasi dan membangun kembali keluarga mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Dalam surat Roma, Paulus mengingatkan bahwa penderitaan yang kita alami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan Tuhan. Kemuliaan itu tidak selalu berarti semua masalah langsung hilang atau keluarga akhirnya menjadi sempurna. Kemuliaan keluarga dapat lahir ketika kita bersedia membiarkan Tuhan bekerja melalui proses yang panjang. Membentuk hati, memulihkan hubungan, dan menghasilkan sesuatu yang lebih indah daripada keadaan sebelumnya. Ya, di tengah proses panjang itulah, Dia sedang membangun sesuatu yang bernilai kekal. Karena itu, jangan menyerah hanya karena perubahan belum terlihat atas keluarga kita. Teruslah berdoa, belajar mengampuni, memperbaiki komunikasi, dan mengambil keputusan yang benar di hadapan Tuhan. Percayalah, setiap langkah ketaatan hari ini membawa keluarga kita semakin dekat dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan. Keluarga mulia bukan keluarga yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan keluarga yang terus memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja melalui setiap proses. Saat Tuhan bertakhta atas keluarga, rumah kita akan menjadi Rumah Perjanjian tempat kemuliaan-Nya dinyatakan. (MV.L) RENUNGAN KEMULIAAN KELUARGA tidak muncul begitu saja secara instan, tetapi LAHIR MELALUI PROSES panjang. APLIKASI 1.Proses seperti apa yang tengah Anda dan keluarga alami saat ini? 2.Mengapa Anda perlu taat dan berserah dalam proses itu? 3.Langkah apa yang dapat Anda ambil untuk setia dalam proses yang Tuhan kerjakan dalam keluarga Anda? DOA UNTUK HARI INI “Bapa yang baik, terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami dalam proses yang kami alami. Tuntun kami, agar kami bisa taat dalam setiap kehendak-Mu atas keluarga kami. Biarlah melalui proses panjang yang kami lalui, keluarga kami bisa menjadi keluarga yang menyenangkan hati-Mu dan menyatakan kemuliaan-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 39-40 Matius 23:23-39

Baca Artikel  

RAHASIA KELUARGA TERHORMAT

04 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Roma 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Susanna Wesley membesarkan keluarganya dalam keadaan yang tidak selalu mudah. Di tengah keluarga besar, ia dengan tekun membangun kehidupan rumah yang dipenuhi doa, disiplin, pendidikan, dan kasih. Anak-anaknya tidak hanya diajar untuk mengenal Tuhan, tetapi juga belajar menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang mereka lihat dan rasakan di rumah. Kelak, John Wesley dan Charles Wesley dipakai Tuhan dalam pelayanan penginjilan yang berdampak luas. Namun, warisan Susanna bukan sekadar tentang apa yang dicapai anak-anaknya, melainkan tentang nilai-nilai yang ditanamkan dalam kehidupan keluarga setiap hari. Dalam surat Roma, Rasul Paulus mengajarkan bahwa kasih diwujudkan melalui sikap saling menghormati. Hormat bukan sekadar kata-kata yang sopan, tetapi sikap yang menunjukkan bahwa kita menghargai keberadaan, perasaan, dan martabat anggota keluarga. Sebelum anak belajar menghormati orang lain, ia belajar dari cara orangtuanya memperlakukannya. Demikian pula suami dan istri membangun budaya hormat melalui cara mereka berbicara, mendengarkan, dan memperlakukan satu sama lain. Itu sebabnya, budaya hormat tidak boleh hanya ditampilkan di hadapan orang lain, tetapi harus menjadi kebiasaan di dalam rumah. Hari ini, mari kita membangun keluarga kita dari hal yang sederhana. Mulailah belajar berbicara dengan lembut, dengarkan tanpa meremehkan, ucapkan terima kasih, hargai perbedaan, dan beranilah meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Keluarga terhormat bukanlah keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang memilih untuk saling mengasihi dan menghormati setiap hari. Ketika kasih dan hormat menjadi budaya di dalam rumah, rumah tangga kita akan dibagun menjadi Rumah Perjanjian. Keluarga kita pun dapat menjadi kesaksian tentang kasih Kristus bagi orang-orang di sekitar kita. (AO) RENUNGAN: Sebelum dunia memandang kita sebagai KELUARGA TERHORMAT, kita harus lebih dulu membangun BUDAYA SALING MENGHORMATI di dalam rumah. APLIKASI 1.Bagaimana Anda membangun keluarga Anda selama ini? 2.Mengapa Anda perlu belajar untuk tetap berbicara dengan sopan dan hormat meskipun sedang berbeda pendapat? 3.Bagaimana Anda bisa menjadikan kasih dan penghormatan sebagai kebiasaan dalam keluarga Anda? DOA UNTUK HARI INI “Tuhan Yesus yang baik, ajar kami membangun keluarga yang dipenuhi kasih dan saling menghormati. Tolong kami menjaga perkataan dan sikap kepada setiap anggota keluarga. Biarlah rumah kami menjadi tempat kasih-Mu dinyatakan dan nama-Mu dimuliakan. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 36-38 Matius 23:1-22

Baca Artikel  

KUNCI KELUARGA PENUH KEMULIAAN

03 September 2026 Tim Penulis Renungan
RHEMA HARI INI Mazmur 24:7 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! Rahab namanya. Ia memiliki reputasi dan masa lalu yang kelam. Ia hidup di tengah masyarakat yang tidak mengenal Tuhan. Namun, saat mendengar tentang kebesaran Tuhan Israel, Rahab memilih percaya. Ketika dua mata-mata yang diutus Yosua datang ke Yerikho, ia membuka pintu rumahnya bagi mereka (Yos. 2:1-11). Saat itu, bukan hanya dua orang tersebut yang diundangnya masuk, tetapi Tuhan sendiri. Keputusan imannya bukan hanya mengubah hidupnya, tetapi juga membawa keselamatan bagi keluarganya (Yos 6:22–25). Bukan itu saja, Rahab kemudian menjadi bagian dari garis keturunan Daud dan akhirnya tercatat dalam silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:5-6). Seperti Rahab yang membuka pintu rumahnya karena iman, Mazmur 24:7 menggambarkan sebuah pintu gerbang yang dibuka bagi Raja Kemuliaan. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa sebuah rumah tangga juga membutuhkan keputusan untuk membuka pintu dan memberi Tuhan tempat untuk memerintah di dalamnya. Mungkin keadaan keluarga kita hari ini belum seperti yang kita harapkan. Ada masa lalu, masalah, atau kelemahan yang membuat kita merasa keluarga kita jauh dari kata mulia. Namun, keluarga yang mulia bukanlah keluarga yang tanpa masalah, melainkan keluarga yang menjadikan Tuhan sebagai pusat dan membiarkan nilai-nilai-Nya menentukan cara mereka menjalani kehidupan. Percayalah, ketika Tuhan diberi tempat untuk bertakhta di hidup kita, Dia dapat memulai perubahan dari satu hati, lalu membawa dampaknya kepada seluruh keluarga. Ya, bukalah pintu rumah tangga kita bagi Raja Kemuliaan. Biarlah Tuhan menjadi pusat dalam setiap keputusan, hubungan, dan nilai yang kita bangun bersama. Sebab keluarga yang penuh kemuliaan bukan keluarga yang sempurna, tetapi keluarga yang menyerahkan seisi rumahnya sebagai Rumah Perjanjian dan memberi ruang bagi Raja Kemuliaan untuk memerintah. (OSA) RENUNGAN Kunci utama menjadikan keluarga kita TERHORMAT dan PENUH KEMULIAAN adalah MENGUNDANG RAJA KEMULIAAN memerintah dalam keluarga. APLIKASI 1.Apakah Anda sudah mengundang Raja Kemuliaan dalam keluarga? Mengapa? 2.Mengapa Anda perlu mengundang Raja Kemuliaan memerintah dalam keluarga Anda? 3.Langkah apa yang dapat Anda ambil agar Yesus sungguh-sungguh menjadi Raja Kemuliaan atas keluarga Anda? DOA UNTUK HARI INI “Bapa, kami bersyukur atas keluarga yang kami miliki. Kami mau mengundang Engkau menjadi Raja Kemuliaan atas keluarga kami. Pimpinlah keluarga kami seturut dengan kehendak-Mu dan biarlah kemuliaan-Mu boleh dinyatakan atas keluarga kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.” BACAAN ALKITAB SETAHUN Keluaran 34-35 Matius 22:23-46

Baca Artikel