KEHAUSAN YANG MEMBANGKITKAN REVIVAL
RHEMA HARI INI
Mazmur 42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
Seorang musafir berjalan jauh di tengah padang gurun yang luas. Ia membawa banyak barang berharga, tetapi air minum yang ia bawa telah habis. Perlahan kehausan mulai menguasainya, tetapi tidak setetes air pun didapatinya. Semakin lama ia berjalan, tubuhnya melemah. Langkahnya goyah. Pandangannya mengabur. Entah berapa lama lagi ia bisa bertahan. Semua yang ia miliki sekonyong-konyong terasa tidak ada artinya. Dengan sisa tenaga, ia berusaha tetap berjalan, hingga akhirnya ia menemukan sumber air. Bersegera, ia menuju sumber air itu, meminumnya dan membasuh wajahnya. Kemudian ia mengisi kembali wadah airnya. Dari titik itulah, kekuatannya pulih, harapannya disegarkan, dan hidupnya seperti dibangkitkan kembali.
Dalam Mazmur 42:2, pemazmur mengingatkan kita agar kita memiliki kehausan akan Tuhan seperti rusa yang merindukan sungai berair. Bagai rusa yang tidak bisa bertahan tanpa air, seperti itu jugalah jiwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Ayat ini menggambarkan kerinduan yang bukan sekadar keinginan biasa, tetapi kebutuhan yang mendesak dan mendalam. Ketika jiwa kita mulai haus akan Tuhan seperti itu, kita tidak lagi mencari-Nya sebagai tambahan, tetapi sebagai sumber hidup. Di situlah Tuhan mulai memenuhi dan memulihkan hidup kita, sebab Dia selalu merespons hati yang sungguh-sungguh merindukan-Nya.
Hari ini, mari kita mengoreksi diri, apakah kita masih memiliki rasa haus akan Tuhan, atau justru sudah merasa cukup? Jangan biarkan kenyamanan dan rutinitas mematikan kerinduan kita kepada-Nya. Terlebih dari apa pun, Tuhan rindu membangkitkan kehausan yang baru akan diri-Nya dalam hidup kita. Sebab tanpa hadirat Tuhan, hidup kita kosong. Namun, ketika kita memiliki kehausan akan-Nya, kasih Tuhan akan mengalir memenuhi hati kita dan kita akan memiliki hati yang baru untuk Tuhan. Saat itulah revival terjadi dan hidup kita tak akan pernah sama lagi. Oleh karena itu, marilah kita membuka hati dan kembali merindukan hadirat-Nya dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mencurahkan perkara-perkara yang baru dan ajaib. (LEW)
RENUNGAN:
Tanpa hadirat Tuhan, hidup kita kosong, tetapi dari HATI YANG HAUS akan Dia, REVIVAL DIMULAI.
APLIKASI
1. Apakah Anda saat ini benar-benar merindukan hadirat Tuhan, atau hanya menjalani rutinitas rohani biasa? Mengapa?
2. Hal apa dalam hidup Anda yang mungkin sedang membuat hati Anda menjadi tidak haus lagi akan Tuhan?
3. Langkah sederhana apa yang akan Anda lakukan hari ini untuk membangun kembali kehausan Anda akan Tuhan?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, penuhilah hidup kami dengan hadirat-Mu yang kudus, agar kami jiwa kami yang haus akan Engkau terpuaskan. Kami rindu selalu hidup dekat dan melekat kepada-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12
KEHAUSAN ROHANI YANG SEJATI
RHEMA HARI INI
Lukas 19:4 “Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.”
Di tengah kerumunan Yerikho yang riuh, banyak mata tertuju pada Yesus. Namun, Zakeus bukan hanya sekadar penasaran. Sebagai seorang pemungut cukai yang bertubuh pendek, ia sadar dirinya terhalang oleh banyak orang. Namun, kehausan rohani yang membara mendorongnya untuk bertindak. Ia berlari mendahului massa dan memanjat pohon ara yang tinggi demi bisa melihat Yesus. Bayangkan: Tubuh pendeknya bergelantungan di dahan pohon, baju resmi pemungut cukainya tercemar debu, dan tatapan orang-orang penuh ejekan. Malu? Pasti. Namun, kerinduannya jauh lebih besar daripada rasa gengsi atau hambatan yang ada. Ia tidak menunggu kesempatan datang, ia menciptakan kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan.
Sering kali dalam hidup, kita memiliki semangat besar untuk mengejar hal-hal yang kita inginkan—karier, pendidikan, atau impian pribadi. Kita rela berkorban waktu, tenaga, bahkan menghadapi kegagalan demi mencapainya. Namun, kerinduan yang sama tidak selalu kita miliki dalam mencari Tuhan. Kita bisa saja berkata kita merindukan Tuhan, tetapi kita tidak bergerak. Mungkin kita terlalu sibuk, terlalu nyaman, atau terlalu memikirkan apa kata orang. Padahal, orang yang benar-benar haus akan Tuhan tidak akan mencari alasan, tetapi mencari jalan. Seperti Zakeus, ketika kita mulai mengejar Yesus dengan sungguh-sungguh, sesuatu yang luar biasa terjadi. Bukan hanya kita yang melihat-Nya, tetapi Dia juga melihat kita dan memanggil kita dengan penuh kasih secara pribadi.
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk memiliki kerinduan yang sama. Kehausan rohani bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan untuk mengejar Tuhan dengan sungguh-sungguh. Itu bukan sekadar rindu, tetapi sebuah tindakan nyata yang mengubah arah hidup kita. Saat kita dengan tulus memiliki kehausan baru akan Tuhan dan mengejar-Nya, Dia tidak hanya hadir di dalam hidup kita, tetapi Dia juga melangkah lebih dekat, menyapa kita secara pribadi, serta memberi kita anugerah yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. (BS)
RENUNGAN
Kehausan rohani yang sejati membuat seseorang RELA MELAKUKAN APA SAJA untuk bertemu dengan Yesus.
APLIKASI
1. Dalam kehidupan Anda, apa "pohon ara" yang masih harus Anda panjat untuk mengejar Yesus?
2. Mengapa Anda perlu menumbuhkan kehausan dan kerinduan akan Tuhan setiap hari?
3. Apakah komitmen yang bisa Anda ambil untuk bertemu dan mengalami Tuhan setiap hari?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu hari ini. Kami rindu Engkau memperbarui kehausan dan kelaparan untuk berjumpa secara pribadi dengan-Mu. Ajar kami untuk melawan setiap rasa malas dan kenyamanan dunia. Kami tahu itu tidak mudah, tapi kami percaya Roh Kudus-Mu akan menolong dan memampukan kami. Terima kasih Tuhan. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Pengkhotbah 1-3; 2 Korintus 11:16-33
PERANGKAP BAHAYA DALAM KENYAMANAN
RHEMA HARI INI
Lukas 6:25a “Celakalah kamu yang sekarang ini kenyang,karena kamu akan lapar.”
Ada sebuah pohon ditanam di dalam pot kecil. Ia rutin disiram dan ditaruh di tempat yang aman. Pada awalnya, tanaman itu tumbuh dengan baik. Namun, setelah beberapa waktu, pertumbuhannya mulai terhenti. Daunnya tidak lagi bertambah banyak dan batangnya tidak semakin besar. Bukan karena kurang air atau sinar matahari, tetapi karena akarnya tidak lagi memiliki ruang untuk berkembang. Tanaman itu sebenarnya hidup, tetapi pot yang terlalu kecil membatasi pertumbuhannya.
Sering kali, kehidupan rohani kita juga seperti tanaman di pot kecil itu. Kita merasa sudah cukup nyaman dengan keadaan iman kita sekarang. Kita terus beribadah setiap minggu, tetap berdoa, dan rutin membaca Alkitab. Seiring berjalannya waktu, kita merasa puas dengan kondisi kerohanian kita. Semua terasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah. Hanya saja, tanpa kita sadari, kita berhenti bertumbuh. Itulah sebabnya, Yesus memperingatkan dalam Lukas 6:25 bahwa orang yang merasa “kenyang” bisa kehilangan rasa lapar. Ketika hati merasa sudah cukup, kehausan akan Tuhan bisa perlahan memudar.
Bersyukurlah karena Tuhan tidak ingin kita berhenti bertumbuh. Seperti tanaman yang perlu dipindahkan ke pot yang lebih besar agar akarnya berkembang, demikian juga iman kita perlu terus diperluas. Kalau hari-hari ini kita mengalami berbagai macam hal yang merenggut kenyamanan kita, itu artinya Tuhan tengah memperbesar kapasitas kita. Terutama kapasitas kerohanian kita. Itu sebabnya, Tuhan rindu kita memiliki kelaparan dan kehausan yang baru akan Dia. Oleh karena itu, jangan biarkan kenyamanan rohani menjadi batas bagi pertumbuhan iman kita. Marilah kita terus mencari Tuhan, memperdalam firman-Nya, dan bertumbuh semakin serupa dengan Kristus setiap hari. (AO)
RENUNGAN
KENYAMANAN adalah KUBURAN paling mewah bagi kehausan rohani.
APLIKASI
1. Periksalah hati Anda, masihkah Anda sungguh-sungguh memiliki kerinduan yang dalam untuk mencari Tuhan? Mengapa demikian?
2. Mengapa Anda perlu mengambil komitmen meluangkan waktu setiap hari untuk membaca firman dan berdoa dengan sungguh-sungguh?
3. Bagaimana Anda bisa mengambil komitmen untuk ikut melayani di gereja, bertumbuh dalam iman melalui komsel, serta menuntaskan skema perjalanan rohani di gereja?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, tolonglah kami agar tidak merasa puas dengan keadaan rohani kami saat ini. Bangkitkanlah kembali rasa lapar dan haus akan Engkau di dalam hati kami. Pimpin kami untuk terus bertumbuh dalam firman dan hidup semakin dekat dengan-Mu setiap hari.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa, Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Amsal 30-31; 2 Korintus 11:1-15
KEHAUSAN YANG MENENTUKAN KAPASITAS
RHEMA HARI INI
Mazmur 63:9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.
Ada seorang ayah yang memiliki perusahaan besar. Sebagian anak-anaknya datang hanya saat membutuhkan sesuatu—uang, fasilitas, atau persetujuan. Namun, ada satu anak yang berbeda. Ia sering meluangkan waktu untuk duduk di ruang kerja ayahnya. Terkadang mereka berbincang ringan, dan kali lainnya ia hanya menemani ayahnya bekerja. Dari waktu ke waktu, ia mulai memahami apa yang disukai sang ayah, bagaimana ia mengambil keputusan, dan apa yang menjadi prioritasnya. Ketika tiba saatnya untuk menentukan siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan perusahaan, banyak orang menduga pilihan itu akan jatuh kepada anak yang paling pintar atau paling berpengalaman. Namun ternyata, sang ayah memilih anak yang paling sering bersamanya. Ketika ditanya alasannya, ia berkata: “Yang lain tahu cara menjalankan perusahaan, tetapi anak ini mengenal hatiku.”
Apabila seorang ayah di dunia saja memilih memberikan posisi atau jabatan kepada anak yang paling dekat dengannya. Terlebih lagi, Bapa di sorga juga rindu untuk menyatakan hal besar kepada anak-anak-Nya yang bersungguh hati mencari Dia. Hal ini pun bisa kita lihat dalam kehidupan Daud. Mazmur 63:9 menggambarkan hati Daud yang “melekat” kepada Tuhan. Sebuah hubungan yang intim, bukan sekadar hubungan karena kebutuhan. Daud tidak hanya datang kepada Tuhan saat terdesak, tetapi hidup dalam kedekatan yang terus-menerus dengan-Nya. Itu sebabnya, tangan Tuhan menopang hidupnya. Daud memperoleh banyak kemenangan dan berhasil mendapatkan posisi sebagai raja bukan karena kehebatannya, tetapi karena kehausannya akan Tuhan.
Ya, kedekatan tidak dibangun dalam momen sesekali, tetapi melalui kebersamaan yang terus-menerus. Karena itu, mari kita membangun keintiman dengan Tuhan setiap hari. Melalui saat teduh pribadi dan mengikuti Pondok Daud di gereja kita. Bukan supaya kita mendapatkan sesuatu, tetapi supaya kita semakin mengenal hati-Nya. Ketika hati kita memiliki kehausan baru akan Tuhan, kita akan mengalami bagaimana tangan-Nya sendiri akan menopang, memimpin, dan mempercayakan perkara-perkara besar dalam hidup kita. (OSA)
RENUNGAN
Raja Daud berkuasa BUKAN KARENA TAKHTA, tetapi KARENA KEHAUSANNYA akan Tuhan.
APLIKASI
1. Apakah selama ini Anda sudah memiliki kehausan akan Tuhan? Mengapa?
2. Mengapa Anda perlu memiliki kelaparan dan kehausan akan Tuhan?
3. Apa yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan kehausan akan Tuhan?
DOA UNTUK HARI INI
“Bapa, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Kami mau meningkatan kehausan dan kelaparan akan Engkau. Mampukan kami membangun hubungan yang intim dengan Engkau. Kami percaya kapasitas kami akan semakin diperbesar dari hari ke hari. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Amsal 27-29; 2 Korintus 10
KEHAUSAN YANG MENGHIDUPKAN JIWA
RHEMA HARI INI
Mazmur 63:2 “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.”
St. Augustine (354–430) adalah seorang filsuf dan teolog besar dalam sejarah gereja. Sebelum bertobat, hidupnya dipenuhi dengan pencarian akan kepuasan dunia: pengetahuan, kesenangan, dan ambisi. Meski demikian, ia merasa ada yang kurang di hidupnya. Ia pun mencoba berbagai hal untuk mengisi kekosongan hatinya, tetapi tetap tidak menemukan kepuasan. Dalam bukunya yang terkenal, Confessions, Augustine menuliskan kalimat yang kemudian tersebar luar: “Our hearts are restless until they rest in You”— “Hati kami gelisah sampai kami menemukan perhentian di dalam Engkau.” Augustine menyadari bahwa apa pun yang ia cari di dunia tidak pernah dapat benar-benar memuaskan jiwanya. Sampai akhirnya ia mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan bertobat secara sungguh-sungguh. Ia kemudian menjadi salah satu pemimpin gereja yang sangat berpengaruh dan dipakai Tuhan untuk memberkati banyak orang.
Pengalaman Augustine ini selaras dengan kerinduan Daud dalam Mazmur 63:2. Daud menggambarkan bagaimana jiwanya haus kepada Tuhan seperti tanah yang kering dan tandus. Baik Daud maupun Augustine sama-sama menunjukkan bahwa jiwa manusia sebenarnya diciptakan untuk Tuhan. Tanpa Tuhan, hati manusia akan selalu merasa kering. Kesaksian Augustine menunjukkan bahwa kapasitas rohani seseorang tidak dibangun oleh kecerdasan, jabatan, maupun pencapaian, tetapi oleh kerinduan hati yang haus akan Tuhan. Ketika seseorang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan akan memenuhi kekosongan jiwa itu dengan hadirat-Nya.
Hari ini, mari kita memeriksa hati kita. Apakah kita masih memiliki rasa haus akan Tuhan? Atau kita hanya menjalani rutinitas rohani tanpa kerinduan yang mendalam? Sadarilah, Tuhan rindu kita datang kepada-Nya dengan hati yang memiliki kelaparan dan kehausan yang baru akan-Nya. Dan ketika kita mengalami kasih Tuhan yang memuaskan jiwa, jangan simpan hanya untuk diri sendiri. Ajaklah orang lain juga untuk datang kepada Tuhan, meninggalkan dosa, dan bertobat kepada-Nya. Sebab hanya di dalam Tuhanlah jiwa yang kering menemukan air kehidupan yang sejati. (AM)
RENUNGAN
Kapasitas rohani dibangun oleh KEHAUSAN akan Tuhan, BUKAN KENYAMANAN.
APLIKASI
1. Apakah selama ini Anda benar-benar haus akan Tuhan, atau hanya menjalani aktivitas rohani sebagai rutinitas? Mengapa demikian?
2. Hal apa dalam hidup Anda yang membuat hati Anda menjadi kering secara rohani dan jauh dari Tuhan?
3. Hal konkret apa yang bisa Anda lakukan untuk memuaskan kehausan rohani akan Tuhan ?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah sumber air hidup bagi jiwa kami. Ampuni kami jika sering kali kami hanya sibuk dengan aktivitas rohani tetapi kehilangan kerinduan akan Engkau. Bangkitkan kembali rasa haus di hati kami untuk mencari Engkau setiap hari. Pakailah hidup kami untuk membawa orang lain datang kepada-Mu dan mengalami pertobatan yang sejati. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Amsal 25-26; 2 Korintus 9
BAHASA KEHAUSAN JIWA
RHEMA HARI INI
1 Samuel 1:10 “Dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.”
Pada tahun 1907, di kota Pyongyang, terjadi kebangunan rohani besar yang kemudian dikenal sebagai Pyongyang Revival. Dalam sebuah pertemuan doa, seorang pemimpin gereja Korea bernama Kil Sun-joo tiba-tiba berdiri dengan hati yang sangat hancur. Dengan air mata yang tak tertahankan, ia mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan dan jemaat. Kerendahan hati yang begitu tulus ini mengguncang atmosfer pertemuan. Jemaat yang melihatnya pun tersentuh—satu per satu mulai menangis, mengakui dosa, dan berseru kepada Tuhan dengan kerinduan yang mendalam. Suasana berubah total. Ruangan dipenuhi tangisan pertobatan, doa yang mengalir dari hati yang haus, dan seruan yang murni kepada Tuhan. Dari pertemuan yang sederhana tetapi penuh air mata itu, gelombang kebangunan rohani menyebar. Ribuan orang bertobat, gereja-gereja dipenuhi, dan Korea mengalami lawatan besar yang dicatat dalam sejarah. Revival itu dimulai bukan dari program atau strategi, tetapi dari air mata pertobatan yang tulus.
Kisah Hana dalam 1 Samuel 1 menunjukkan pola yang sama. Hana datang kepada Tuhan dengan hati yang pedih, berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Dalam pandangan manusia, tangisan sering dianggap sebagai kelemahan. Namun di hadapan Tuhan, air mata itu adalah bahasa kehausan rohani. Bahasa yang sanggup memecahkan langit. Berkali-kali di sepanjang Alkitab dan sejarah gereja, kita bisa melihat bahwa ketika hati benar-benar haus, ketika jiwa berseru tanpa pura-pura, dan ketika air mata jatuh di hadapan Tuhan, di situlah Dia mulai bergerak. Dengan demikian, air mata seperti itulah yang menjadi benih dari mujizat, pemulihan, dan kebangunan besar.
Jika hari ini ada di antara kita yang datang kepada Tuhan dengan pergumulan, doa yang tertahan, atau air mata yang sulit dihentikan, ketahuilah ini: Tuhan tidak menolak air mata yang lahir dari hati yang haus akan Dia. Justru hati yang hancur seperti itulah yang menjadi tempat Tuhan bekerja secara dahsyat. Di balik air mata yang mengalir dari hati yang dipenuhi kehausan yang baru akan Dia, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang baru—new wonders, keajaiban dan mujizat yang akan dinyatakan dalam hidup kita. (KK)
RENUNGAN
Kadang tangisan bukan TANDA KELEMAHAN, tetapi TANDA KEHAUSAN ROHANI yang memecahkan langit.
APLIKASI
1. Apakah hati Anda masih memiliki kehausan yang dalam kepada Tuhan, seperti Hana yang datang kepada Tuhan dengan kerinduan dan air mata dalam doanya?
2. Mengapa Anda perlu membuka hati dengan jujur di hadapan Tuhan, mengakui dosa dan kelemahan Anda?
3. Jika Tuhan sedang membangkitkan kerinduan dan pergumulan dalam hati Anda, bagaimana Anda bisa meresponsnya dengan mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh dalam doa?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, bangkitkan kembali kehausan rohani di dalam hati kami.
Lembutkan hati kami supaya kami datang kepada-Mu dengan kerinduan yang tulus. Biarlah doa-doa kami, bahkan air mata kami di hadapan-Mu, menjadi benih bagi karya-Mu yang baru dalam hidup kami. Kami percaya Engkau sedang mempersiapkan perkara-perkara yang ajaib bagi umat-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Amsal 19-21; 2 Korintus 7
Categories
Latest Posts