BAHASA KEHAUSAN JIWA
RHEMA HARI INI
1 Samuel 1:10 “Dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.”
Pada tahun 1907, di kota Pyongyang, terjadi kebangunan rohani besar yang kemudian dikenal sebagai Pyongyang Revival. Dalam sebuah pertemuan doa, seorang pemimpin gereja Korea bernama Kil Sun-joo tiba-tiba berdiri dengan hati yang sangat hancur. Dengan air mata yang tak tertahankan, ia mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan dan jemaat. Kerendahan hati yang begitu tulus ini mengguncang atmosfer pertemuan. Jemaat yang melihatnya pun tersentuh—satu per satu mulai menangis, mengakui dosa, dan berseru kepada Tuhan dengan kerinduan yang mendalam. Suasana berubah total. Ruangan dipenuhi tangisan pertobatan, doa yang mengalir dari hati yang haus, dan seruan yang murni kepada Tuhan. Dari pertemuan yang sederhana tetapi penuh air mata itu, gelombang kebangunan rohani menyebar. Ribuan orang bertobat, gereja-gereja dipenuhi, dan Korea mengalami lawatan besar yang dicatat dalam sejarah. Revival itu dimulai bukan dari program atau strategi, tetapi dari air mata pertobatan yang tulus.
Kisah Hana dalam 1 Samuel 1 menunjukkan pola yang sama. Hana datang kepada Tuhan dengan hati yang pedih, berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Dalam pandangan manusia, tangisan sering dianggap sebagai kelemahan. Namun di hadapan Tuhan, air mata itu adalah bahasa kehausan rohani. Bahasa yang sanggup memecahkan langit. Berkali-kali di sepanjang Alkitab dan sejarah gereja, kita bisa melihat bahwa ketika hati benar-benar haus, ketika jiwa berseru tanpa pura-pura, dan ketika air mata jatuh di hadapan Tuhan, di situlah Dia mulai bergerak. Dengan demikian, air mata seperti itulah yang menjadi benih dari mujizat, pemulihan, dan kebangunan besar.
Jika hari ini ada di antara kita yang datang kepada Tuhan dengan pergumulan, doa yang tertahan, atau air mata yang sulit dihentikan, ketahuilah ini: Tuhan tidak menolak air mata yang lahir dari hati yang haus akan Dia. Justru hati yang hancur seperti itulah yang menjadi tempat Tuhan bekerja secara dahsyat. Di balik air mata yang mengalir dari hati yang dipenuhi kehausan yang baru akan Dia, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang baru—new wonders, keajaiban dan mujizat yang akan dinyatakan dalam hidup kita. (KK)
RENUNGAN
Kadang tangisan bukan TANDA KELEMAHAN, tetapi TANDA KEHAUSAN ROHANI yang memecahkan langit.
APLIKASI
1. Apakah hati Anda masih memiliki kehausan yang dalam kepada Tuhan, seperti Hana yang datang kepada Tuhan dengan kerinduan dan air mata dalam doanya?
2. Mengapa Anda perlu membuka hati dengan jujur di hadapan Tuhan, mengakui dosa dan kelemahan Anda?
3. Jika Tuhan sedang membangkitkan kerinduan dan pergumulan dalam hati Anda, bagaimana Anda bisa meresponsnya dengan mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh dalam doa?
DOA UNTUK HARI INI
“Tuhan, bangkitkan kembali kehausan rohani di dalam hati kami.
Lembutkan hati kami supaya kami datang kepada-Mu dengan kerinduan yang tulus. Biarlah doa-doa kami, bahkan air mata kami di hadapan-Mu, menjadi benih bagi karya-Mu yang baru dalam hidup kami. Kami percaya Engkau sedang mempersiapkan perkara-perkara yang ajaib bagi umat-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”
BACAAN ALKITAB SETAHUN
Amsal 19-21; 2 Korintus 7
Categories
Latest Posts